Selasa, 13 Oktober 2015

Ragunan, oh Ragunan...

Suatu hari ketika melakukan kunjungan kerja ke negara Meksiko pada 1972, Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, menyempatkan diri mendatangani Sports Centre di Mexico City. Setelah mengamati pusat pelatihan dan pengembangan olahraga, Gubernur yang banyak melakukan banyak perubahan dalam pengembangan Jakarta menjadi kota metropolitan itu tercetus ide untuk membuat tempat serupa di Jakarta.

Empat tahun kemudian Ali Sadikin membangun Sekolah Atlet Ragunan yang kemudian diresmikan pada 15 Januari 1977 oleh Wakil Presiden kala itu, Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Sekolah tersebut berada di dalam kompleks Gelanggang Olahraga Ragunan, tidak jauh dari Kebun Binatang Ragunan yang telah berdiri lebih dulu sejak 1966. Bagi sebagian masyarakat, wilayah Ragunan memang lebih identik dengan kebun binatang yang hampir setiap minggu selalu ramai didatangi pengunjung, apalagi saat masa liburan Ragunan akan penuh sesak.

Sejarah Kebun Binatang Ragunan sendiri tidak dapat dipisahkan dari kebun binatang pertama di Indonesia yang dibangun pada 1864 di kawasan Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, dengan nama Planten En Dierentuin yang berarti Tanaman dan Kebun Binatang. Pada akhirnya kebun binatang pemberian dari Raden Saleh itu pindah tempat setelah pada 1964 Pemerintah DKI menghibahkan tanah sekitar tiga puluh hektar untuk menjadi rumah bagi para satwa. Butuh waktu dua tahun pembangunan rumah satwa, dan pada 22 Juni 1966 Kebun Binatang Ragunan diresmikan oleh Ali Sadikin.

Kontur perhutanan di Ragunan membuat wilayah tersebut terasa sangat sejuk, termasuk di GOR (Gelanggang Olahraga). Saat berada di lokasi tersebut, terkadang saya tidak sadar masih berada di kota Jakarta. Memang tempat dan udaranya berbeda dengan wilayah Jakarta lainnya yang penuh dengan polusi. Maka dari itu GOR Ragunan cukup layak untuk sekedar mencari keringat pada pagi atau sore hari.

Kembali ke Sekolah Atlet Ragunan, dalam perjalannnya Diklat Ragunan banyak melahirkan atlet top yang mampu mengharumkan nama bangsa di kancah olahraga internasional. Pasangan peraih medali emas Olimpiade 1992 di Barcelona cabang bulu tangkis Alan Budikusuma dan Susy Susanti lahir dari gemblengan di Diklat Ragunan. Begitu juga juara dunia bulu tangkis 1983, Icuk Sugiarto.

Masih ada lagi pebulu tangkis Lius Pongoh, lantas petenis yang pernah menempati ranking 19 dunia, Yayuk Basuki, juga muncul dari Sekokah Atlet Ragunan. Begitu pun pepanah Nurfitriyana Saiman yang menyumbang medali pertama untuk Indonesia di Olimpiade bersama Lilies Handayani dan Kusuma Wardani pada Olimpiade 1988 di Seoul.

Di dunia sepak bola, Diklat Ragunan juga banyak menghasilkan pemain bagus dari generasi ke generasi yang bermain di top level sepak bola Indonesia seperti penjaga gawang Arema Malang Kurnia Meiga, pemain tengah Persipura Jayapura Rubben Sanadi dan Ian Lois Kabes, pemain Persib Bandung Abdul Rahman, serta pemain Persija Ramdani Lestaluhu. Dari generasi sebelumnya ada Sudirman, Samsidar, dan masih banyak lagi.

Saya pun lahir dari Diklat Ragunan, salah satu tempat yang membuat saya bisa seperti sekarang ini. Ketika kelas satu Sekolah Dasar saya masuk ke Sekolah Sepak Bola Jayakarta yang memang berlokasi di Ragunan dan masih ada sampai saat ini. Memasuki Sekolah Menengah Pertama, saya pindah ke Senayan dan bergabung dengan tim AS-IOP. Hanya saja ketika kelas tiga SMP, saya harus kembali ke Ragunan, tetapi bukan untuk balik ke Sekolah Sepak Bola yang pernah membesarkan saya, melainkan saya masuk ke Diklat Ragunan.

Ya, saya terdaftar sebagai siswa Sekolah Khusus Atlet SMP/SMA Ragunan. Empat tahun saya ditempa di sana untuk menjadi seorang atlet yang disiplin, bertanggung jawab, dan penuh percaya diri. Selain itu, saya banyak bertemu teman baru yang berasal bukan hanya dari pulau Jawa, tetapi dari Sabang sampai Merauke. Semua suku di Indonesia hampir ada di Ragunan kala itu. Namanya Ragunan, Diklat Ragunan dan Kebun Binatang Ragunan tidak jauh beda, sama-sama beragam. Hampir semua suku di Indonesia kumpul di Diklat dan hampir semua satwa kumpul di Kebun Binatang, Hehehe.

Diklat Ragunan memang menjadi tempat memupuk harapan bagi para atlet muda dari berbagai pelosok negeri. Sayangnya, belakangan Diklat Ragunan mulai sayup terdengar. Belum ada lagi atlet top sekelas Susy Susanti, Alan Budikusuma, Yayuk Basuki, Icuk Sugiarto, dan Nurfitriyana Saiman yang lahir dari Diklat Ragunan. Hal itu seiring dengan kian menuanya fasilitas dan bangunan di seputar Diklat Ragunan, bahkan sebagian sudah tidak memadai untuk mengembleng para atlet.

Menurunnya perhatian kepada Diklat Ragunan bisa jadi karena penanganan atau penanggungjawab Diklat tidak dalam satu atap karena ada Dinas Pendidikan dan Dinas Pemuda dan Olahraga. Optimalisasi para pihak tersebut yang perlu menjadi perhatian. Setelah mengujungi Diklat Ragunan, Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, pun mengakui perlu adanya optimalisasi. Menpora mengatakan bahwa mengoptimalkan pusat pelatihan merupakan salah satu kewajibannya. Untuk itu Menpora akan mengupayakan untuk melakukan perbaikan atau mencari solusi lain.

Nah. semoga itu bukan hanya semangat sesaat agar Diklat Ragunan bisa kembali berkibar dan menghasilkan atlet-altet terbaik karena pada kenyataannya memang banyak tunas-tunas muda di Diklat Ragunan yang siap mengharumkan nama bangsa. Tinggal bagaimana sekarang pemerintah melalui pihak-pihak terkait memberikan perhatian dan dukungan yang lebih besar agar kembali melahirkan atlet-atlet terbaik demi membangkitkan kembali olahraga Indonesia.

Sabtu, 03 Oktober 2015

Aset Bernama Budak

Sepak bola telah menjadi sebuah industri yang sangat menggiurkan di dunia. Semua klub berlomba menjadi yang terbesar baik dalam perolehan gelar maupun pendapatan. Setiap pemain bersaing menjadi yang terhebat agar bisa menobatkan diri sebagai pemain dengan nilai tinggi saat masuk bursa transfer, maupun ketika disodorkan kontrak oleh kub dan sponsor.

Perputaran uang di dunia sepak bola luar biasa besar, sejalan dengan value atau nilai serta pendapatan sebuah klub. Semakin tinggi value klub, semakin tinggi pula revenue dan semakin banyak juga celah untuk mengeruk pendapatan.

Menurut Football Benchmark ada tiga wilayah utama pendapatan untuk sebuah klub sepak bola yakni dari Matchday Revenue yang dihasilkan dari pertandingan home melalui penjualan tiket, Broadcast Revenue dari hak siar di liga dan kompetisi lain termasuk ajang internasional, serta Commercial Revenue dari sponsorship, merchandising, licensing, dll.

Kita ambil contoh Real Madrid. Klub ini kerap dinobatkan sebagai klub terkaya di dunia. Pada Mei 2015, value atau nilai klub ini mencapai 3,263 miliar dolar AS atau sekitar 48 triliiun rupiah, jumlah yang lebih besar dari APBN Indonesia 2015 untuk biaya ketertiban dan keamanan yang sebesar 46,1 triliiun rupiah. Value Real Madrid itu didapat dari match day yakni penjualan tiket pertandingan sebesar 608 juta dolar AS, hak siar 1,091 miliar dolar, nilai komersial 1,1 miliar dolar, serta brand 464 juta dolar.

Value tersebut tentu bukan hanya karena 32 gelar juara La Liga yang telah didapat Real Madrid, dan bukan pula sekedar pengoleksi La Decima yakni 10 gelar gelar di Liga Champions, tetapi nilai Real Madrid muncul dari berbagai ekploitasi binis yang dilakukan termasuk memanfaatkan imej para pemain dalam mendapatkan sponsor, serta pengembangan program lisensi dan merchandising terutama berupa replika ofisial jersey pertandingan oleh Adidas.

Seorang ahli keuangan di Inggris, Christine Cooper, dalam sebuah tulisan Insolvency practice in the field of football juga menegaskan bahwa The most important asset of a football club is its cultural capital (football skills), reflected by the economic benefits generated by competing in the most prestigious competitions.

Aset terpenting dalam sebuah tim adalah kemampuan atau kekuatan tim itu sendiri, terutama kekuatan tim di dalam lapangan yang direfleksikan oleh penampilan para pemain. Hal itu menjadi keuntungan ekomomi bagi klub karena jika klub kuat maka suporter akan datang membeli tiket, berbagai gelar bisa diraih, dan dengan sendirinya sponsor berdatangan menawarkan uang.

Benah merahnya keberadaaan pemain di sebuah klub itu sangat penting karena benar-benar bisa mempengaruhi pendapatan klub tersebut. Kembali ke contoh kasus Real Madrid. Setelah membeli David Beckham dari Manchester United pada 2003 dengan nilai transfer 25 juta pound, pendapatan Real Madrid dari merchandise yakni penjualan jersey saja meningkat hingga 67% di musim pertama Beckham di klub itu.

Beckham effect  juga mempengaruhi nilai kontrak Real Madrid dengan para sponsor kala itu seperti Siemens, Adidas, dan Pepsi yang bernilai sekitar 80 juta pound per tahun. Pendapatan dari penjualan tiket naik menjadi 48 juta pound (26%), begitu pula dari hak siar menjadi 44 juta pound (24%), dan 16 juta pound (8%) dari aktivitas promosi seperti tur pra-musim dan pertandingan di luar negeri.

Pengeluaran Real Madrid untuk gaji para pemain sendiri per tahun waktu itu adalah 98 juta pound atau 52% dari omset. Artiya pemain benar-benar ditempatkan sebagai aset terpenting karena faktanya mereka yang benar-benar bisa mempengaruhi pendapatan dan kelangsungan sebuah klub.

Situasi tersebut berbeda 180 derajat, layaknya langit dan bumi jika melihat kondisi di tanah air. Padahal tanggung jawab pemain di lapangan di belahan bumi mana pun sama yakni latihan, bermain, dan memberikan efek yang bagus di lapangan agar suporter selalu datang membeli tiket, serta turut memberi imej yang baik agar sponsor berdatangan.

Ironisnya meski jatuh bangun dan bersimbah peluh di lapangan, sebagian besar pemain di sepak bola Indonesia justru tidak diperlakukan sebagai aset. Mereka diperas tenaga dan waktunya, tetapi tidak diperhatikan kebutuhan pokoknya terutama makanan, tempat tinggal, dan gajinya ditunggak. Beberapa klub bahkan hingga tega tidak membayarkan gaji yang tertunggak kepada pemain.

Pemain bekerja keras untuk memberi pendapatan kepada klub, tetapi klub tidak memberikan haknya kepada pemain, dan ini tak beda dengan perbudakan. Tentu ada yang salah dalam hal ini, terutama sistem dan kapabilitas manajemen di balik pengelola klub jika sampai terjadi kasus-kasus seperti itu. Jadi, jangan harap sepak bola kita bisa maju dan menuju industri jika hal yang paling mendasar yakni menjaga aset terpenting dalam tatanan sepak bola dalam hal ini pemain, tidak mereka lakukan.

Jumat, 19 Juni 2015

Interview Dengan Supperball


1. Bagaimana pendapat Andri mengenai banyaknya pemain profesional
(termasuk kamu) yang memilih tampil di tarkam?

- Pendapat saya bagi pemain yang mengikuti tarkam, itu tidak jadi masalah. Karena kita pemain sepak bola, tentu kita butuh yang namanya pertandingan, agar sentuhan bola dan kondisi fisik tidak turun drastis.

2. Setelah beberapa kali tampil di laga tarkam, mungkin ada pengalaman
menarik? Misalnya khawatir keributan suporter kepada pemain, mengingat
tidak ada jarak antara pemain dan penonton.

- Beberapa kali tampil, dan pengalaman menarik. Kalau anda bilang beberapa kali, saya rasa anda salah, karena saya baru pertama kali ikut pertandingan tarkam di hari Minggu kemarin, dan itu pengalaman pertama saya ikut tarkam selama saya masuk di liga profesional. Saya tidak pernah merasa khawatir dengan keributan seporter, saya rasa pihak panitia penyelenggara sudah menyiapkan keamanan.

3. Bagaimana rasanya bertanding di lapangan yang kurang baik ditambah dengan

keberadaan penonton di pinggir lapangan dekat dengan pemain? Ada perasaan

risih atau khawatir dengan respons negatif dari penonton di pinggir lapangan?

- Rasanya bertandingan di lapangan yang kurang baik, awalnya saya ada rasa takut cedera, tetapi di liga profesional saya juga sering bertemu dengan lapangan yang kurang baik, jadi saya rasa tidak jadi masalah. Perasaan risih ata khawatir dengan respons penonton yang negtif, saya sebagai pemain sudah biyasa karena di liga profesional kita juga sering di teror di dalam lapangan sama penonton, jadi menurut saya bagus untuk melatih mental kita.

4. Label pemain timnas dan Persija tidak membuat kamu gengsi main di tarkam?

- Gengsi main tarkam karena label pemain timnas dan Persija. Awalnya saya sangat menjaga label itu, tetapi semakin lama saya berfikir, kalau saya tidak bermain atau tidak ada pertandingan dalam jangka waktu yang lama, sentuhan dan feeling bermain saya akan hilang, jadi untuk sementara waktu saya harus mekesampingkan label tersebut untuk kebutuhan saya dalam bertanding dan sentuhan bola saya tetap terjaga.

5. Apa pendapat kamu mengenai krisis finansial yang seakan menjadi
lumrah di tubuh manajemen Persija?

- Pendapat saya mengenai krisis financial di Persija. Semesitanya ini bukan hal yang lumrah di dalam club dengan nama besar Persija. Sebenarnya musim lalu kita tidak ada masalah financial, mungkin saya rasa tahun ini kalau liga berjalan lancar Persija tidak terkendala dengan financial, terbukti sudah ada beberapa sponsor yang mau masuk di awal musim, mungkin karena stopnya liga, sponsor juga tidak ingin ambil resiko.

6. Punya keinginan untuk melanjutkan karier di luar negeri mengingat
vakumnya sepak bola Indonesia akibat konflik? Apalagi Greg sudah resmi
ke Liga Thailand sementara Adam Alis juga tengah berkomunikasi dengan
salah satu klub Jepang.

- Ingin melanjutkan karier di luar negeri. Kalau ingin melanjutkan karier di luar, saya ingin, tetapi sampai saat ini belum adanya kesempatan untuk itu.

7. Apa tanggapan Andritany mengenai konflik pemangku kepentingan sepak bola

nasional antara Kemenpora dan PSSI? Dampaknya bagi kamu?

- Pendapat saya tentang konflik PSSI dan Kemenpora. Seharusnya ini tidak semestinya terjadi, kalau memang mereka sama-sama ingin memperbaiki sepak bola Indonesia. Dampaknya bagi saya adalah, tidak adanya pertandingan, karena saya sebagai pemain sepak bola sangat butuh pertandingan, dan terhentinya sumber income dari sepak bola.

8. Apa harapan pemain terhadap masa depan sepak bola indonesia setelah

terkena sanksi?

- Harapan saya untuk sepak bola Indonesia setelah terkena sanksi adalah. Saya berharap Indonesia bisa keluar dari kisruh sepak bola ini. Kemenpora dan PSSI bisa menghidupkan sepak bola Indonesia yang saat ini sedang mati suri. Dan terbentuknya liga yang berkualitas, karena  timnas kita akan berkualitas kalau di pondasikan dengan liga yang berkualitas juga.

9. Terakhir. Bisa diungkapkan rasanya menjadi ayah dan apakah lebih
bersemangat meningkatkan karier lebih baik?

- Rasanya menjadi ayah. Pertama saya bersyukur karena telah di karuniai seorang anak perempuan, dan ini menjadi obat penyemangat saya untuk lebih baik lagi di karier sepak bola.


Selesai....

Rabu, 08 April 2015

Karier

Debut ISL bersama Sriwijaya FC di umur 18 tahun 58 hari, Debut ISL bersama Sriwijaya FC di umur 18 tahun 58 hari, pertandingan Sriwijaya Fc vs Persik Kediri, hari Sabtu 23-Januari-2010, Stadion Jakabaring Palembang.

Debut bersama Persija, Hari Minggu 11-Desember-2011, Persija vs Persiram Raja Ampat, umur 19 tahun 350 hari, stadion Surajaya Lamongan.

Sebelum saya bermain di dua tim besar yang ada di Indonesia, saya sempat merasakan panasnya persaingan Divisi I Liga Indonesia di tahun 2007, bendera yang saya bela saat itu Pesik Kuningan Jawa Barat.

Dan saya juga pernah bergabung bersama tim junior Persib Bandung di tahun 2006 pada saat itu Persib saya bawa menjadi juara di tingkat junior....

Senin, 10 November 2014

Penantian Dua Belas Tahun

Jakarta,malam ini Ibu Kota sedang di guyur hujan dengan kapasitas cukup deras,setelah beberapa hari ini Ibu Kota panas yang cukup terik,ya paling tidak hujan malam ini sedikit membuat sejuk Kota ini.Selain turunnya hujan yang membuat sejuk,tetapi selalu ada masalah lain di balik itu,masalah lain yang datang biyasanya macet,dan yang lebih kelasik lagi adalah banjir.Macet,macet selalu datang di saat jam pulang kantor,semua orang psti ingin cepat sampai di rumah ingin bertemu keluarga,tapi macet di Ibu Kota akan lebih parah saat kota ini di guyur hujan dengan kapasitas deras.Banjir,Banjir sudah masalah yang klasik buat Jakarta setiap hujan deras pasti di beberapa tempat akan tergenang air,apa lagi tepat yang sangat rawan banjir.Kita lupakan sejenak permasalahan yang ada di kota Jakarta.

AFF Cup,saat ini saya sedang mengikuti TC (Training Cemp) bersama Timnasional senior yang untuk mengikuti turnamen AFF Cup yang di ikuti negara-negara se Asean (Asia Tenggara).Nama AFF sebelumnya adalah Tiger Cup,memang nama sudah berganti tetapi sistem masi hampir semuanya sama,dan turnamen ini selalu di gelar setiap dua tahun.Saat ini AFF Cup akan bergulir di dua negara yaitu Vietnam, dan Singapura.

Saya peribadi punya pegalaman saat turnamen ini di gelar,tahun 2002 saat itu masi bernama Tiger Cup,dan Indonesia menjadi tuan rumah perhelatan ini.Saat Tiger Cup di gelar di Indonesia,saya sempat merasakan bertugas menjadi pembawa bendera Fair Play, dan ball boy.Pada waktu itu saya adalah petugas paling kecil,yang baru berumur 10 tahun,sedangkan yang lain sudah diatas 17 tahun.Waktu saat saya membaawa bertugas membawa bendera,saya pernah bermimpi ingin seperti Hendro Kartiko yang saat itu beliau yang menjadi kiper Timnasional kita.

Satu Minggu saya sudah bersama-sama Timnasional senior,dan mimpi yang dua belas tahun lalu akan terwujud,tapi mungkin tuhan berkehendak lain pada diri saya,cedera yang saat ini membuat saya agak sedikit pesimis dan hampir tertutup pintu saya untuk menuju mimpi agar bisa tampil atau masuk sekuat Timnasional di AFF Cup.
Di sisi lain saya ingin memaksakan diri agar terus berlatih,tetapi saya berfikir tidak akan ambil resiko,karena berbahaya untuk karir dan masa depan saya.
Tetapi saya terus berfikir,tuhan akan memberikan sesuatu yang lebih indah di balik cedera saya ini.
Dan saya jadi teringat kutipan sebuah film The Fault In Our Star, ada kata ''If you want the rainbow,then you have to face the rain'' .
Jadi saya juga tidak perlu takut,karena pasti semua akan ada hikmah dan pengalaman dari apa yang sudah kita kerjakan.

Selesai....

Jumat, 19 September 2014

Sappada


Saya akan menulis lanjutan dari artikel saya yang berjudul Roma.Sappada,sebuah perkampungan kecil di lembah pegunungan Alpen .Suasan di perkampungan disini sangat nyaman,bersih,sejuk dan sangat jauh dari hingar bingar seperti halnya kota Metropolitan.Saat ini Sappada sedang mengalami musim panas,dan suhu udara di perkampungan ini pada siang hari berkisar 15-20 drajat,dan pada malam hari 10-13 drajat.Pada musim panas di perkampungan ini sangat indah sekali,dari mulai bunga yang berwarna warni dan juga terlihat jelas beberapa puncak gunung yg ada di sekitar.Beberapa kali saya jalan keluar dari penginapan dimana Saya dan Tim tinggal,Saya jalan untuk menghirup segarnya udara di sekitar lembah dari pegunungan Alpen,dan beberapa kali saya perhatikan orang-orang di sekitar,ternyata perkampungan ini sedikit banyak wisatawan dari usia lanjut bersama pasangan,seperti hal nya Opa dan Oma.Suasana sendiri pun bisa anda nikmati di akun Instagram saya,disitu ada foto yang saya ambil langsung dari kamera ponsel saya,sungguh nyaman sekali perkampungan ini.

Sedikit kita lupakan cerita di atas,saat ini saya akan membahas perjalanan saya selama di Italia.Tanggal 18 Juli 2014 pertandingan pertama di tour Italia,lawan yang kami hadapi tim besar di Seri A yaitu AS Roma,memang kita saat itu menyerah dengan hasil akhir 1-3,dan harus sama-sama kita akui bahwa lawan dua sampai tiga tingkat di atas kita,maaf bukan saya menilai tim usia 23 tahun di bawah lawan,tapi ini fakta,bahwa tim lawan jauh lebih memiliki kualitas.Tetapi banyak pelajaran yang bisa Saya dan tim ambil dari pertandingan itu dan ini menjadi modal yang sangat berharga untuk di pertandingan Asian Games.

Satu hari setelah pertandingan melawan AS Roma pagi harinya kami bertolak ke kota
Venezia untuk menuju ke perkampungan Sappada,dan bersiap melakukan pertandingan ke dua melawan tim yang juga tidak kalah besar dari sebelumnya,Lazio adalah tim yang akan kami lawan di pertandingan selanjutnya.20-Juli-2014 pertandingan melawan Lazio di gelar,tetapi pertandingan tersebut tidak di laksanakan di Sappada,kami harus menunpuh sekitar dua puluh menit dari Sappada menuju camp Lazio.Lagi-lagi tim Garuda Muda takluk 2-0 dari tim tuan rumah,sekali lagi saya harus mengatakan tim lawan lebih baik dari kami,dan lagi-lagi kami dapat pelajaran dan pengalaman yang sangat berharga.Dan saya peribadi tidak mempermasalahkan hasil dari pertandingan tersebut,yang terpenting Saya dan Tim dapat pengalaman dan pembelajaran,karena dua hal itu yang sangat sulit di dapat,dan dua hal itu juga yang akan membuat kita hebat.


Selesai....

Rabu, 16 Juli 2014

Roma

                  

Roma,pagi hari setelah sesaat saya terbangun dari tidur,seperti biyasa saya bergegas menuju kamar mandi untuk cuci muka agar mata sedikit segar.Saat ini Timnasional umur 23 tahun sedang meagendakan uji coba di benua biru,dan yang menjadi tujuan adalah negara yang sudah empat kali menjadi juara dunia yaitu Italia.Di sini saya dan tim akan melaksanakan tiga kali uji coba,pertandingan pertama melawan As Roma,kedua Lazio,dan terakhir Cagliari.Melawan AS Roma kami akan bermain di kota Roma,melawan Lazio dan Cagliari saya sendiri belum tahu di kota mana kami bermain,nanti pasti akan saya beri tahu di tulisan selanjutnya.

Jakarta Roma perjalanan yang memakan waktu cukup lama,hampir lebih kurang delapan belas jam kami berada di udara,sungguh perjalanan yang sangat membosankan bagi saya,sudah beberapa hal yang saya kerjakan di dalam pesawat saat itu,dari mendengarkan musik,berbincang-bincang dengan yang lain,dan sampai hal yang menurut saya konyol sudah saya lakukan,hal konyol yang saya lakukan foto selfi pake tongsis di dalam pesawat,akhirnya semua orang di dalam pesawat tertawa melihat saya seperti itu,dan sejujurnya saya sebelumnya tidak pernah melakukan hal yang konyol seperti itu,hahaha.Dan saat menuju ke Roma kami melakukan dua kali transit,pertama kami di Singapur,dan yang ke dua di Istambul, setelah Istambul baru kami tiba di Ibu Kota Italia,perjalanan yang melelahkan tapi harus di nikmati dan di jalani,karena ini adalah tugas dari negara.

Dari perjalanan panjang dan melelahkan dari Jakarta ke Roma yang memakan waktu hampir delapan belas jam, dan pada saat ini adalah bulan suci Ramadhan atau bulan puasa,ada beberapa pemain yang masi kuat menjalankan ibadah puasa,dan termasuk saya sendiri adalah salah satu pemain yang tidak puasa saat itu,maaf namanya juga musafir,hehehe.Saat ini di Roma sedang summer atau musim panas,di Roma sendiri pun siang lebih panjang ketimbang malam,di Roma kita batas sahur atau imsak jam 3.41 waktu Roma,dan berbuka 20.46 waktu Roma,bayangkan betapa panjang sekali saat kita menjalankan puasa hampir enam belas jam kita harus puasa,di Indonesia kita puasa lebih kurang tiga belas jam,tapi sebenarnya ini mengasikan,menjadi sebuah pengalaman buat saya peribadi,puasa di beda waktu yang penjang ini.
Sekian dulu laporan saya dari kota Roma,tunggu Roma part II.