Minggu, 17 Juni 2018

Pergi Bersamanya

Bumi bertanya kepada langit, apa yang akan kau berikan?

Langit menjawab.
Akan aku berikan matahari untuk menghangatkan di setiap harinya, dan malam akan aku berikan bulan, bintang untuk memperelok malam mu

Pantai bertanya kepada lautan, apa yang akan kau berikan?

Lautan menjawab.
Akan aku berikan ikan, karang, dan ombak walau akan terseret kembali kepada ku.

Gitar bertanya kepada dryer, apa yang akan kau berikan?

dryer menjawab.
Akan aku berikan senar untuk menciptakan suara, agar menjadi sebuah simfoni yang elok.

Kertas bertanya kepada pena, apa yang akan kau berikan?

Pena menjawab.
Akan aku berikan tinta hitam pekat, agar menjadi sebuh syair yang menyentuh hati

Jika kamu bertanya kepada aku, apa yang akan aku berikan untuk mu?

Aku menjawab.
Akan ku berikan cinta, sayang ku untuk mu, walau aku mengerti engkau akan pergi bersamanya


                   Jayapura-Jakarta
                        19-10-2017

Jumat, 08 Juni 2018

Rasa Yang Sama Dengan Wujud Yang Berbeda

Sebagai pesepak bola senjata yang paling utama adalah sepasang sepatu bola, tetapi berbeda dengan saya yang berposisi sebagai penjaga gawang, Bagi saya yang paling utama adalah selain sepatu bola yaitu glove (sarung tangan). Tidak berbeda dengan seorang prajurit ketika mereka berperang pasti seorang prajurit memilih senjata yang paling nyaman, dan yang paling dia paham cara penggunaannya, demikian dengan pesepak bola pada umumnya.

Saat pertama saya bermain sepak bola di SSB, saya dibelika sepatu berlogo petir. Ketika itu saya belum mengenal sebuah kenyamanan dalam menggunakan sepatu, yang saya tahu hanya lari, menendang menggunakan sepatu khusus sepak bola. Ketika dimana saya belum mengenal brand besar dalam sepak bola seperti NIke, Adidas, Puma, Umbro, Dll.

Seiring bertambahnya usia saya semakin mengerti tetang kenyamanan sebuah sepatu, di tahun 2012 saya kontrak dengan salah satu brand besar asal Amerika, sebelum saya sign kontrak dengan brand asal Amerika tersebut saya terbiasa menggunakan sepatu dari pabrikan Jerman, tetapi karena bicara tentang profesionalisme saya beradaptasi dengan brand asal Amerika tersebut.

Adaptasi saya tidak berlagsung lama, hanya sekitar tiga bulan saya bisa mendapat sebuah kenyamanan dengan sepatu pabrikan Amerika, tetapi sayangnya adalah setiap tiga bulan brand tersebut selalu mengeluarkan warna baru, atau model yang berbeda, sudah pasti ketika sudah mendapat sebuah kenyamanan saya harus beradaptasi ulang dengan sepatu yang baru.

Satu tahun berjalan kontrak dengan pabrikan Amerika saya sudah bisa mendapkan kenyamanan yang sangat luar biasa dengan sepatu yang mereka berikan setiap tiga bulan tersebut, tetapi ada kendala baru saat sudah mendpatkan feel dengan sepatu, dan juga glove. 2014 brand tersebut merubah bentuk, yang signifikan membuat saya harus beradptasi, kendala saya ketika itu terkadang sepatu yang saya gunakan sedikit tidak setabil di kaki, atau terlalu kecil dibagian depan, pada akhirnya saya harus melepas bagian alas yang ada di dalam agar membuat saya lebih nyaman menggunakannya.

Mungkin karena sepatu itu di disaign untuk mengikuti lekukan kaki para pemain terbaik di Eropa, dan yang belum tentu cocok juga bagi saya. Sepatu yang saya gunakan itu yang selalu di gunakan oleh legend dari Italy ya itu Pirlo.

Pada 2018 saya memutuskan pindah tipe sepatu, dari Tiempo, ke Magista. Di sepatu tersebut saya benar-benar merasakan sentuhan yang berbeda, sentuhan tersebut mengingatkan saya seperti pertama kali menggunakan sepatu pabrikan U.S (Uncle Sam) tersebut.

Sepanjang 2014-2017 semestinya pencarian saya sudah berakhir, karena saya sudah menemukan sebuah sentuhan yang sangat mirip seperti di tahun pertama kali saya berkerja sama dengan brand asal Paman Sam tersebut.

Bagi saya kenyamanan alas kaki untuk pertandingan yang utama, karena saya tidak mau cedera, atau salah mengambil sebuah keputusan dipertandingan karena kesalahan faktor memilih senjata.

Rasa yang sama telah saya temukan kembali walau dengan wujud yang berbeda!!



                                                                                                                                  Tamat....

Minggu, 15 April 2018

Terima kasih Atas Larangannya

26 Desember 1991, Cipedak Jagakarsa Jakarta Selatan tepat 02.30 pagi lahir bocah laki-laki dengan berat 3,5 kg, dan panjang 52cm bernama Andritany Ardhiyasa. Lahir dari seorang ibu bernama Neni Juliani, dan seorang bapak bernama Talih Ardhiyasa. Saya tumbuh dari keluarga kalangan menengah, bapak saya  pada awalnya seorang scurity bank, dan pensiun sebagai pegawai bank ibu saya seorang ibu rumah tangga. Kami tinggal di kampung yang bernama Cipedak, ketika itu jalan masuk ke rumah masih tanah merah, dan becek saat hujan turun. Hanya ada beberapa rumah saja di desa tersebut pada saat saya lahir, lampu 3 watt  menyinari setiap teras rumah yang ada.

Saat ada pertandingan tinju, atau sepak bola orang tua saya selalu pergi ke rumah tetangga yang memiliki televisi hitam putih, rumah tersebut milik pak Haji Yusup, kebetulan rumah beliau dekat dengan musholah tempat kami sekeluarga sholat. Tidak jarang ketika itu saya, bersama orang tua terutama bapak menonton pertandingan sepak bola atau tinju di rumah beliau.

Orang tua saya di karuniakan dua orang anak, pertama Indra Kahfi Ardhiyasa yang saat ini bermain untuk Bhayangkara Fc, dan yang kedua Andritany Ardhiyasa (saya sendiri). Kami berdua sering barmain bola bersama bahkan sampai garasi rumah dan dua kursi menjadi gawang ketika itu, dengan menggunakan bola tenis kami memainkannya hampir setiap sore, sampai adzan maghrib berkumandang.

Sejak umur 5 tahun saya selalu di belikan bola oleh ayah ketika beliau pulang kerja, bola apa saja yang beliau berika selalu saya mainkan memakai kedua kaki ini. Ketika bermain sore, tidak jarang saya bermain di depan halaman rumah bermain sepak bola bersama teman-teman dan disaat itu saya selalu menjadi penjaga gawang, walau terkadang saya meminta ganti menjadi sebagai penyerang.

Saat umur 7 tahun saya suka ikut kaka bermain sepak bola di lapangan bola volly tanah yang berada di tengah-tengah kebun seorang pedagang nasi uduk lapangan tersebut sering kami sebut San SIro karena banyak daerah saya fans dari Inter Milan, dan juga AC Milan. Di San Siro saya bermain bersama orang yang lebih dewasa dari umur saya, ketika ingin bermain saya selalu di larang menjadi penyerang, karena umur yang masih terbilang lebih muda dari yang lain, kenyataanya saat ini saya berterima kasih kepada orang-orang yang dahulu pernah melarang bermain menjadi seorang penyerang.

sejak umur 6 tahun saya sudah jatuh cinta dengan sepak bola, tidak jarang di ajak oleh bapak ke lapangan walau hanya untuk berlari-lari, atau menonton bapak, dan abang (Indra Kahfi) bermain dengan tim kampung tempat kami tinggal. Dari sana mulai saya belajar bagaimana cara menendang bola yang benar, dan mengontrol bola yang baik.

Pada kenyataannya saya bukan terlahir dari keluarga pesepak bola, tetapi saya dilahirkan di keluarga pencinta olah raga. Bapak, dan ibu saya bukan pure pencinta sepak bola, bahkan bapak dan ibu saya kenyataannya adalah pemain bola volly. Karena terlahir dari keluarga yang pencinta bola volly, saya  dan Indra Kahfi secara otodidak bisa bermain bola volly. Bahkan saat duduk di bangku SMA, Indra Kahfi pernah berada di persimpangan antara sepak bola, atau bolla volly.

Berbeda dengan abang, saya yang sejak 1998 sudah masuk di SSB tidak pernah sedikit saja ada niat keluar dari sepak bola. apa lagi di tambah support dari kedua orang tua yang hampir setiap latihan selalu mendapingi membuat saya lebih termotivasi saat berada di dalam lapangan. Bukan berarti abang tidak di support, orang tua kami sangat memperhatikan perkembangan, dan masa depan kedua anaknya, hingga sampai saat ini kedua orang tua kami masih andil untuk kami menjadi manusia yang lebih baik.

Ketika duduk di bangku sekolah dasar, saya pernah ada didalam persimpangan seperti Indra hanya bedanya adalah saya di persimpangan antara sepak bola, dengan pendidikan. Ketika SSB saya ada latihan setiap satu Minggu ada tiga kali, Selasa, Kamis, dan Minggu untuk hari Minggu tidak menjadi masalah yang besar karena hanya masalah agak sulit bagun tidur di Minggu pagi. Yang menjadi masalah besar adalah Selasa, dan Kamis sore di karanakan saat kelas 3 SD saya harus masuk sekolah siang.

Dengan adanya masalah tersebut saya berdiskusi dengan ibu, dan bapak untuk mencari jalan keluar agar saya dapat menjalankan latihan, dan sekolah. Pada akhirnya saya meminta pindah sekolah agar bisa menjalankan latihan di Selasa, dan Kamis sore. Sekolah saya pindah, pada akirnya tidak lagi berbenturan dengan jadwal latihan, ternyata diluar dugaan ketika menginjak kelas 5 SD terjadi renovasi sekolah yang membuat seluruh kelas harus menumpang di sekolah lain. Dan terjadilah masalah baru antara sekolah, dan sepak bola.

                                            Bersambung.

Senin, 09 April 2018

Rindu

 2006 di sebuah gedung yang kokoh namun sudah berumur. Mess diklat Ragunan mempertemukan saya dengan teman-teman dari seantero negri, bukan hanya dari cabang sepak bola, hampir seluruh cabang olahraga ada di diklat Ragunan. Semua atlet tinggal, dan juga sekolah di dalam kompleks GOR Ragunan, makanan, peralatan sekolah, bahkan sampai peralatan mandi kami mendapatkannya. Saya rasa siapapun yang akan menjadi atlet diklat Ragunan hanya butuh membawa underwear (celana dalam). Dari pengalaman pribadi saya disana ada beberapa atlet yang sering hunting underwear, maka dari itu janganlah kaget ketika segitiga bermuda sering sekali raib.

Di artikel ini saya tidak akan berbicara banyak tentang diklat Ragunan, saya akan menceritakan pertama kali pertemuan saya dengan seorang sahabat, saudara, abang, senior, panutan, atau biasa orang bilang saingan tetapi tidak bagi saya, orang ini adalah seperti apa yang saya sebutkan dari tulisan diatas kecuali “saingan’’.

2007 pertama kalinya saya bertemu dengan orang tersebut, dia pertama kali masuk di diklat Ragunan kelas 2 SMA memang saya terlebih dahulu terdaftar sebagai siswa di Ragunan, ketika itu saya terdaftar sebagai siswa kelas 3 SMP, saat saya naik ke kelas 1 SMA orang tersebut baru terdaftar sebagai siswa Ragunan. Pertama kali ia datang, bergabung dikamar saya.

Pada akhirnya siswa baru tersebut menjadi teman baik saya, banyak waktu yang kami leawatkan bersama dari makan, sekolah, latihan, sampai bolos sekolah untuk main play station di rental kami melakukan bersama. Kami juga sering saling tukar pinjam seperti sepatu bola, sepatu sekolah, belt, tentu tidak dengan underwear. hahaha.

2008 dia memutuskan meninggalkan Ibu Kota setelah melaksanakan UN, daerah di Jawa Timur tempat dia berlabu, tidak lama memulai kerier sebagai pesepak bola profesional dia mendapatkan juara sekaligus sebagai pemain terbaik, pencapaian yang layak dia dapat ketika itu jika kita melihat dari sebuah kerja kerasnya di diklat. Dia orang yang tidak pernah mengenal rasa lelah, dia tidak pernah mengenal menyerah, dia selalu ingin memberika yang terbaik, dia tidak pernah mendengarkan cacian dari seporter, tidak berlebihan jika saya mengatakan dia pantas menjadi seorang nomer satu.

Banyak saat ini orang bertanya kepada saya ‘’sakit apa teman kamu itu?”, saya selalu menjawab “saya pribadi belum tahu pasti penyakit apa yang ia derita, yang pasti saya selalu berdoa apapun sakit yang ia derita cepat diangkat Allah SWT, dan pulih seperti sedia kala.

Tidak hanya satu, atau dua orang yang bertanya kepada saya, mungkin sudah belasan atau bahkan puluhan. Dari semua orang yang bertanya kepada saya, ada beberap yang hanya ingin tahu sakit apa yang ia derita, tetapi tidak sedikit juga orang yang sudah mulai rindu dengan sahabat saya, dan saya rasa seluruh pencinta sepak bola berharap ia bisa kembali lagi merumput bersama klub, dan juga tim Nasional.

Apapun penyakit yang lo terima saat ini gue yakin lo bisa mengalahkannya, gue yakin lo tidak akan pernah menyerah,  gue yakin lo pasti akan bisa kembali.

Saya akan terus menunggu disaat kita bisa berdiri bersama berjarak 110 meter.

Di akhir artikel ini saya titipkan salam rindu dari kami semua yang telah merindukan mu berseragam Garuda di dada.

Lekas pulih, dan lekas kembali.


                                                         TAMAT....

Kamis, 21 Desember 2017

Ibu

 Tiga hari setelah Persija melaksanakan latihan perdana untuk mempersiapkan tim mengarungi liga di tahun 2018, di tiga hari ini intensitas latihan sedikit tinggi karena memang seperti biasanya pada saat awal pembentukan tim selalu yang di mulai dari kondisi fisik dari para pemain. Jadi saya sudah tidak kaget dengan program seperti ini.

Di artikel ini saya tidak akan membahas latihan di dalam tim, mari kita ikuti saja artikel ini yang akan mengalir. Saat ini tanggal 20 Desember 2017, tidak seperti biasanya 19.00 saya sudah bisa bertemu buah hati yang bernama BInar Jiwa Ardhiyasa, tidak seperti hari-hari sebelumnya saya biasa tiba di rumah 20.00, bahkan sampai 21.30. Di hari ini sebuah keberuntungan bagi saya, bisa tiba di rumah lebih awal.

Di rumah bukan hanya BInar yang selalu menunggu kehadiran saya, ada istri tercinta Citra Destie Arlinda Sari yang selalu menunggu kehadiran pangerannya pulang setelah berjuang mencari nafkah. Ketika sesampai di depan gerbang rumah setelah berjuang, selalu ada dua bidadari cantik dengan senyuman manisnya yang selalu menunggu kehadiran sang pangeran. Senyuman itu yang selalu membuat saya bisa melupakan rasa lelah setelah seharian berjuang demi mereka, terima kasih dua bidadari cantik.

Citra selalu mengantarkan saya ke pintu gerbang saat saya akan pergi mencari nafkah, dan dia selalu menyambut kehadiran saya ketika saya datang. Hal kecil itu yang selalu membuat saya termotivasi untuk berjuang memberikan yang terbaik untuk keluarga kecil ini. Saat ini dia sedang mengandung anak kedua kami yang sudah berusia 5 bulan, begitu gigihnya merawat Binar yang masih berusia 2 tahun 7 bulan bisa dibayangkan anak seusia Binar sedang aktifnya, dan saat ini dia mengandung anak kami yang sudah berusia 5 bulan, sungguh hebatnya bagi saya perjuangan seorang ibu.
Jauh sebelum hadirnya seorang Citra di dalam kehidupan seorang Andritany, ada seorang perempuan hebat yang telah mengandung, melahirkan, dan juga membesarkan saya. Orang itu bernama Neni Juliani, itulah orang yang telah mengandung saya selama 9 bulan lamanya, dan juga membesarkan saya sampai seperti ini.

Ketika saya mengingat perjalanan ketika dahulu sampai saat ini selalu ingin meneteskan air mata, begitu sabar, dan juga gigihnya seorang ibu yang selalu menunggu anaknya saat sekolah, dan seteah itu mengantar anaknya latihan sampai malam tiba. Terkadang hujan deras menjadi penghalang kami ketika ingin berangkat latihan, atau setelah latihan. Tetapi dengan penuh semangat kami tidak pernah berhenti untuk berlatih. Bukan hanya latihan, ketika malam tiba dia selalu mengajarkan saya pelajaran yang ada di sekolah, bisa dibayangkan begitu hebatnya peran seorang ibu.

Mungkin tepat sekali ketika di agama saya yang selalu mengatakan ibu, ibu, ibu, baru ayah. karena memang lebih besar peran seorang ibu untuk kesuksesan anaknya, walaupun tidak harus kita kesampingkan peran seorang ayah yang sebagai pencari nafkah. Karena bagaimanapun seorang ibu, tetap surga selalu ada di telapak kakinya, bukan berarti kita tidak harus hormat kepada ayah, karena kunci sukses dari seorang anak yaitu dari kedua orang tua terutama ibu, yang telah mengandung, melahirkan, membesarkan, dan juga mengenalkan kita dengan dunia tanpa mengenal kata pamrih.

Kita harus selalu ingat, dari rahim seorang ibu akan lahir calon seorang ibu.

‘’Selamat hari Ibu, terima kasih engkau telah melahirkan kami kedunia yang elok ini’’



TAMAT....

Sabtu, 04 November 2017

El Clasico

Citylink akan menerbangkan kami kembali ke Ibu Kota setelah melaksanakan pertandingan yang sangat menguras tenaga, emosi, dan pikiran. Pertandingan yang bertajuk El Clasico Indonesia memang selalu ada drama yang sangat menarik untuk menjadi sebuah artikel.

Pada awalnya saya sebagai pemain sedikit kecewa, mengapa pertandingan ini harus terusir ratusan kilo meter dari kota Jakarta, tetapi saya sebagai pemain tetap harus bermain meskipun harus terusir ribuan kilo meter.

Sebelum terusir ke kota Surakarta, Persija ada rencana menjamu Persib di SUGBK, ternyata tidak mendapatkan izin dari pihak SUGBK. Selain itu ada obsi Persija semestinya bisa menjamu Persib di stadion Patriot Bekasi, karena pada esensinya setadion tersebut menjadi kandang Persija dari awal liga, tetapi yang terjadi semua di luar yang sudah di rencanakan, kami harus terusir ke kota Surakarta.

Dengan kejadian tersebut memang membuat beberapa pemain, dan supporter kecewa tetapi ini bukan kejadian yang pertama ketika melawan Persib harus bermain di luar JABODETABEK karena alasan keamanan.

Sebagai pemain pada esensinya saya siap bermain dimana saja, tetapi alangkah bagusnya kita bisa bermain di kandang sendiri, dan bisa di support oleh puluhan ribu supporter.

Kita lupakan tentang venue pertandingan, saat ini saya ingin mengajak pembaca untuk berfikir positif tentang apa yang terjadi di dalam lapangan.

Setelah pertandingan seperti biasa saya membuka account media sosial instagram, dan twitter. Saya terkejut ketika banyak comment yang saya terima ketika itu, dan comment seperti biasa pro, dan kontra. Ketika itu saya hanya tersenyum membaca comment yang ada, karena saya pribadi tidak merasa apa yang mereka tuduh kepada diri saya, dan seorang Bepe.

“Sampai saat ini saya, dan Bepe tidak berkata bahwa bola itu tidak goal. Bola itu mutlak goal”, dan semestinya papan skor di stadion Manahan membuat Persib unggul. Tetapi wasit menyatakan bahwa bola belum melewati garis, dan bagaimana reaksi kami ketika itu?.

Ketika saya melihat replay, semua pemain Persija menunjukan gestur tubuh lemas, tetapi wasit tidak meniup peluit menyatakan bola goal. Dan setelah itu, pada saat pemain Persib mempertanyakan keputusan wasit, apa ada satu pemain dari Persija membantah bahwa bola tersebut tidak goal, Ezechiel N'Douasselasing saat itu bertanya kepada saya, “goal keeper ball it’s goal?” Saya menjawab “goal, but referee have decision”. Apa yang saya katakan jujur kepada pemain tersebut.

Banyak comment di media sosial saya, mengapa anda tidak menyatakan bola itu goal kepada wasit?. Saya rasa semua keeper di dunia akan bereaksi sama seperti saya, mari kita berbicara, dan saya ingin membawa para pembaca mengingat kejadian piala dunia 2010 Afrika Selatan, ketika England melawan Jerman, apa yang di lakukan Manuel Neuer? Ketika itu tendangan Frank Lampard sudah melewati garis.

Jadi misalkan semua pemain harus jujur, ketika membuat pelanggaran, handsball, offside, dan semua pemain bisa menyatakan jujur di dalam pertandingan, menurut saya sepak bola sudah tidak butuh lagi orang seperti Pierluigi Collina, karena semua pemain sudah jujur, dan paham dengan peraturan.

Saya pribadi tidak puas dengan pertandingan tersebut, memang Persija menang, apa ada raut wajah gembira dari wajah saya. Yang membuat saya tidak puas, mengapa pertandingan tidak dilaksanakan sampai selesai.

Ketika itu setelah wasit meniup pluit panjang saya langsung menghampiri Ahmad Jufrianto, dan saya berkata “Jupe, pada akhirnya kalian rugi sendiri”, Jupriyanto hanya mengatakan “kita baru akan main lagi, kita sedang mengatur formarsi”. Itu yang di katakan Jupe kepada saya.

Tetapi menurut saya apapun alasannya jangan sampai kita berhenti dari pertandingan, mungkin jika pada saat itu wasit dari Indonesia, pasti akan merayu agar Persib bermain lagi. Tetapi wasit asing tidak demikian, karena mereka akan mengambil keputusan yang menurut mereka itu benar. Dan saya rasa atas kejadian ini menjadi sebuah pelajaran bagi siapapun agar sepak bola kita menjadi lebih baik.

Tetap bersatu, bendera kita masih Indonesia, sepak bola pemersatu Bangsa, rivalitas 90 menit.

                                                           Tamat....

Kamis, 24 Agustus 2017

Memadamkan Gelora Bandung Lautan Api

Di Jum'at pagi yang cerah, saya memacu roda empat menuju bilangan Halim Perdana Kusuma, tempat yang saya tuju di pagi itu adalah mess pemain Persija Jakarta. Pagi itu tim Persija ada sechedule ke Bandung untuk melakoni pertandingan away liga 1. Lawan yang akan di hadapi pada Sabtu 22 Juli 2017 adalah Persib Bandung, yang esensinya adalah rival dari Persija.

08.00 WIB bus yang di tumpangi tim Macan Kemayoran bergerak menuju tanah Pasundan. 12.00 WIB tim Persija tiba di salah satu hotel di daerah Pasteur Bandung, perjalanan yang memakan waktu lebih kurang 4 jam.

16.30 WIB Persija melakukan latihan ringan di halaman hotel tempat tim tinggal. Yang pada semestinya tim Macan Kemayon mendapatkan jatah untuk uji coba lapangan, atau official training di Glora Bandung Lautan Api tetapi tim Persija tidak ingin mengambil resiko yang akan berdampak merugikan tim, apa lagi pemain.

Situasi di dunia maya sudah mulai panas ketika itu, memang tidak bisa kita pungkiri bahwa pertandingan antara Persib vs Persija yang menyita emosi bagi para supporter kedua tim, atau bahkan para pencinta sepak bola, karna pertandingan kedua tim ini selalu dinanti-nanti publik Indonesia, publik hanya ingin melihat drama apa  yang akan terjadi di dalam Pertandingan.

Sore itu setelah latihan ringan, kondisi badan saya mulai sedikit drop. Pada akhirnya saya meminta obat untuk menjaga agar kondisi badan saya tetap stabil. 19.37 setelah acara makan malam bersama tim, saya langsung menuju kamar, tarik selimut, dan lekas menuju mimpi. Tidak lama berselang setelah saya menarik selimut, tidak di sangka teman sekamar saya melakukan hal yang sama, demam, dan flu menyerang seorang Ramdani Lestaluhu. Bisa dikatakan kami berdua terserang flu yang berat ketika itu.

Mentari di Sabtu pagi sudah mulai tinggi, saya terbangun dari mimpi, mimpi yang menjadi bunga tidur  saat itu, Persija takluk 2-0 di GBLA tersentak saya bangun dari mimpi yang buruk di pagi itu. Setelah bangun dengan keadaan sedikit panik, saya menuju kamar mandi untuk menyadarkan diri sepenuhnya. Setelah sadar sepenuhnya, saya bergegas keluar dari kamar menuju restoran dengan perut yang sudah lapar, pagi itu saya melahap dua croissant, dan secangkir kopi. 30 menit lamanya  saya menikmati menu sarapa di hotel Topaz, setelah itu saya mencari sinar matahari untuk sekedar menghangatkan tubuh yang dingin, karena sejuknya kota Bandung.

Setelah beberapa menit menikmati hangatnya mentari kota Bandung, saya kembali ke kamar, dan menemui rekan sekamar yang akan pergi ke restoran untuk menyantap menu sarapan yang ada. Blanket saya tarik kembali untuk menutupi tubuh saya yang masi merasakan dinginnya kota Bandung, flu dan demam yang masih saya derita di pagi itu. Obat yang di beri oleh dokter tim selalu tidak pernah telat saya minum, air mineral sudah habis sebanyak 2 botol yang berukuran 1,5 liter hanyak untuk satu malam. Tetapi flu, dan demam masih hinggap di tubuh saya.

Pada hari itu pertandingan berlangsung malam hari, sekitar 8 jam sebelum kickoff tubuh saya masih dalam kondisi 50%, dan bila coach bertanya pagi itu, saya akan mengatakan tidak siap untuk bertanding, mengapa?. Karena saya tidak ingin merugikan diri sendiri, dan juga teman-teman apalagi tim.

Pagi itu saya mencoba tidur, tetapi mata ini tidak bisa terlelap dengan mudah. Banyak hal yang pada akhirnya saya kerjakan agar mata ini bisa tertutup pulas. Sampai pada akhirnya mata ini terlelap dengan sendirinya. Sekitar 1 jam 30 menit saya tertidur tiba-tiba alaram yang saya set untuk makan siang berdiring pada pukul 12.20 di karenakan harus makan siang bersama dengan tim pada pukul 12.30, saya bergegas mengganti menggunakan seragam kebesaran. Makan siang selesai, dan saya kembali ke kamar. Terlihat pada sesi makan siang suasana tim sangat hangat, dan saya melihat terkadang ada sedikit candaan dari para pemain senior untuk mencairkan suasan.

Setelah makan siang saya kembali ke kamar, dan saya harus meminum obat yang di beri oleh dokter, agar keadaan semakain membaik. Tidak lama setelah obat saya minum, dan suasana diluar kamar hujan yang begitu deras membuat mata ini mudak terpejam. Tidak pernah lupa saya selalu mesetting alaram untuk persiapan meeting sebelum pertandingan, 14.45 alaram saya berdering dikarenakan 15.45 saya dan tim briffing sebelum pertandingan. Dengan kondisi tubuh yang mulai membaik tetapi tidak dengan 100% fit saya berani mengambil keputusan untuk bertanding.

Adrenaline yang begitu tinggi memberanikan saya untuk mengambil sebuah resiko besar saat itu. Dan saya sadar betul, ketika saya ambil keputusan itu, saya sedang mewakili sebagian besar masyarakat kota Jakarta, dan yang lebih spesifik adalah The Jakmania.

16.30 tim menuju GBLA dengan cuaca hujan, kita menggunakan barracuda agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. Sesampai di sekitar GBLA cuaca agak sedikit mendung, dan sepertinya akan turun hujan sama halnya dengan cuaca di hotel tempat kami tinggal. Ketika itu ribuan Viking atau Bobotoh sudah memadati area GBLA, bagusnya pada hari itu tidak ada satu pun dari suporter Persib Bandung yang menyentuh atau melempar kendaraan barracuda yang kami tumpangi. Saya pribadi tidak menyangka, 16.50 kami telah mendarat mulus di GBLA suasana di stadion sudah full, saya  rasa tidak ada lagi kursi yang tersisa.

Dua jam sebelum kickoff suasana ruang sakral tim begitu hangat, canda, tawa menujukan bahwa suasa tim dalam keadaan harmonis. Tidak ada satu pun pemain yang terlihat tertekan secara mental ketika itu, dan ada beberapa pemain bercerita tentang bagaimana untuk pertama kalinya menumpangi kendaraan barracuda, yang notabene adalah kendaraan untuk menangani teroris, atau alat untuk pengusiran masa.

17.50 Semua pemain sudah siap untuk melaksanakan warm up, disini mulai terlihat wajah-wajah garang para pemain, sebagai mana seperti seekor macan yang ingin menerkam lawan. Terkadang ada satu, atau dua pemain yang mengaung bagaikan macan yang sedang kelaparan, tetapi biasanya pemain itu sedang menghilangkan rasa nervous yang menyelimuti dirinya.

Tim di pimpin captain Ismed Sofyan untuk memasuki lapangan, dan memberi penghormatan kepada para seluruh penonton yang datang ke GBLA. Ketika kaki saya menginjak rumput lapangan, adrenalin saya semakin meninggi disaat itu juga semua penyakit yang saya derita sebelum pertandingan hilang seketika. Suasana stadion membangkitkan semangat saya, yang pada akhirnya melupakan segalanya, yang ada di pikiran saya ketika itu hanya "do the best for victory",tidak ada pikiran lain yang terlintas di kepala ketika itu.

18.30 kickoff pertandingan dimulai, tetapi sebelum memulai pertandingan saya selalu melakukan ritual yang hampir disetiap pertandingan tidak pernah terlewatkan. Membuat garis lurus tepat di kotak pinalty, berjalan perlahan seakan menghitung langkah menuju box goal area membuat garis lurus sama seperti di kotak pinalty, perlahan berjalan menuju garis gawang, dan membuat hal yang sama seperti dua sebelumnya. Tidak sampai disitu, saya menuju tiang kanan, dan tiang kiri. Di akhir saya berada di tengah gawang dan berdoa kepada yang maha Esa.

Pertandingan dimulai. Tempo pertandingan sangat cepat sejak ditiupnya peluit oleh sang pengadil, serangan silih berganti. Pada menit 14 Persib Bandung memimpin jalannya laga, tetapi hanya berselang 4 menit, tendangan keras dari Ramdani berhasil menyamakan kedudukan. Score 1-1 tidak berubah sampai akhir laga.

Pada pertandingan tersebut beberapa kali ada gesekan antar pemain, tetapi gesekan tersebut masih dalam batas yang wajar. Memang pertandingan besar selalu ada pride tersendiri untuk memenangkan pertandingan, apa lagi di laga antara Persib dengan Persija, hampir bisa dipastikan akan timbul persoalan.

Pada di akhir pertandingan ada perselisihan antar pemain, yang membuat para penonton terprovokasi. Pada saat itu akhirnya lemparan botol mineral, dan lemparan fler terjadi, tetapi para anggota kepolisian cepat mengevakuasi pemain Persija, dan tidak hanya kepolisian beberapa pemain Persib juga ikut membantu menjaga kami. Saya, Bepe, Ambrizal Umanailo, dan Rohit Chan adalah pemain Persija yang terakhir masuk ke ruang ganti. Dan insiden saat itu tidak separah seperti yang ada di media, buktinya kami sebagai pemain masih bisa menikmati perjalanan pulang ke Jakarta dengan happy, dan tidak ada masalah.

Sekalipun ada masalah tentu kami akan lupa, karena kami baru saja berhasil memadamkan kobaran api di Gelora Bandung Lautan Api dengan 10 prajurit yang tangguh.

                                                        Tamat….