Selasa, 13 Desember 2016

Dream Come True

Sore hari ketika sang fajar akan tenggelam di ufuk barat, ada seorang laki-laki dengan perawakan tinggi, besar, tegap dan berjanggut lebat seakan tidak peduli dengan penapilannya yang agak sedikit kusam. Dengan secangkir kopi hitam, laki-laki tersebut menikmati senjanya dari balkon kamar hotel 709. Laki-laki tersebut seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini di dirinya, dia mengenakan seragam yang berlebel Garuda di dadanya. Selama ini laki-laki tersebut yang saya kenal haya berani bermimpi mengenkan seragam kebesaran Tim Nasional Indonesia, tetapi apa yang saat ini terjadi, laki-laki tersebut mendapatka amanah dari negara untuk berjuang bersama sekuad Garuda lainnya di AFF 2016.

Iya, laki-laki dengan perawakan yang diatas itu, saya sendiri. Memang ini bukan pertama kali saya mengenakan seragam kebesaran Tim Nasional Indonesia, sejak berumur 13 tahun seragam itu bisa saya katakan setia hingga saat ini. Tetapi bagi saya seragam yang saat ini terasa sangat sepesial, mengapa tidak. Karena seragam ini berlebel Tim Nasional senior yang berlaga di piala AFF 2016, saya rasa banyak sekali pemian yang ingin mendapat kesempatan seperti saya, bukan hanya dari pemain yang berlevel liga super, tetapi dari level tarkam pasti juga sama ingin merasakan kesempatan seperti saya.

Selama ini saya haya berani bermimpi untuk mengenkan seragam yang bagi saya sangat keramat, tentu selain saya bermimpi, usaha, dan kerja keras selalu mendapingi prossesnya. Dari prosess tersebut adalah, latihan seperti sebagai mana mestinya pemain sepak bola, dan tidak mudah bagi saya untuk mendapatkan seragam berlebel Garuda tersebut. Seperti orang Jakarta (Betawi) bilang, keringat bukan hanya keluar dari pori-pori kulit, tetapi sampai harus keluar dari tempat yang tidak sewajarnya.

Prosess dari perjalanan career saya memang belum pernah saya tuangkan di Blog pribadi, mungkin suatu saat saya akan mentuangkan tentang perjalanan career sepak bola saya. Banyak orang, bukan hanya di dunia sepak bola, atau dunia olahraga yang ingin menjadi suksess melalui jalur yang instant. Saya rasa agak sedikit mustahil, jika ingin suksess tetapi tidak melalui prosessnya. Tetapi saya juga tidak sedang bicara tidak mungkin, ada beberapa contoh juga di dunia yang bisa menjadi suksess tanpa melalui prosess yang sebagai mana mestinya, dan saya tidak mungkin menyebutkan satu persatu di Blog pribadi.

Saat ini saya sedang merasakan dream come true, dimana sejak dulu saya haya berani bermimpi tetapi saat ini saya bisa mewujudkan mimpi yang telah lama menjadi bunga tidur saya. Piala Tiger 2002, ketika saya menjadi ball boy di setadion utama GBK saya melihat Hendro Kartiko dengan gagahnya mengenakan seragam Garuda didada ketika itu. Dan saat itu juga saya berani bremimpi untuk mengenakan seragam tersebut.

Dari semua cerita saya, itu hanya sepenggal perasan saya saat ini. Dan tentu saya sangat menikmati dari hasil yang pernah saya korbankan sejak dahulu, tetapi dari perjalanan saya yang paling dinikmati adalah prosessnya. Karena mimpi tidak akan didapat dengan begitu mudah, bahkan dibeli. maka dari itu nikmatilah prosess seblum mimpi itu terwujud.

Di akhir artikel ini, saya akan menulis. Jangat pernah membeli mimpi Mu dengan sebuah harta, atau tahta. Wujudkan pimpi Mu dari hasil keringat Mu sendiri, maka rasa mimpi Mu akan berbeda jika diwujudkan dengan hasil karya Mu sendiri.






                                                                                                                                                Tamat....




Rabu, 30 November 2016

Nivea Men Acne Control

Sebagai pesepak bola profesional, tentu saya harus berlatih setiap hari untuk menjaga performa. Terkadang waktu untuk berlatih juga tidak menentu, pagi, siang, atau sore hari saya harus selalu siap untuk berlatih. Bahkan cuaca sering tidak bersahabat dengan saya, hujan, panasnya terik matahari sudah menjadi teman saat berlatih.

Saat berlatih tentu kulit wajah saya terkena debu, dan tanah. Tetapi itu tidak menyulutkan niat untuk saya terus berlatih, dan bertanding. Pekerjaan sebagai pesepak bola profesional memang harus selalu bersentuhan langsung dengan debu, dan tanah.

Untungnya, ada NIVEA MEN Acne Control Fuji Ice Mud Serum Facial Foam untuk menjaga kulit wajah agar selalu terlihat fresh dan bersih dari jerawat.  Nah kalau kalian beli produknya sekarang, kebetulan NIVEA MEN lagi ngadain promo seru ke Inggris nih! Buruan cari dan beli produk NIVEA MEN bersticker khusus dan menangin kesempatan nonton bola ke Inggris bareng Bepe.

Beli produkya & baca infonya di bit.ly/NMEN_MauKeInggris!

Minggu, 20 November 2016

Sepak Bola Bukan Matematika

Araneta, salah satu kota di bagian negara Filipina. Filipina, dan Myanmar menjadi tuhan rumah Piala Suzuki AFF 2016. Piala AFF sudah bergulir sejak tanggal 19 November 2016, dan Indonesia baru melakoni satu pertandingan. Thailand lawan pertama Indonesia, dan Indonesia harus takluk 2-4 ketika itu.

Indonesia sendiri masih ada peluang yang besar untuk melaju ke babak semi final, jika nanti di tanggal 22 November Indonesia bisa menaklukkan tuhan rumah, maka peluang untuk lolos ke semi final semakin besar. Dan di laga pamungkas penyisihan grup tanggal 25 November Indonesia akan berhadapan dengan Singapura. Semoga di dua laga terakhir Indonesia bisa menyapu bersih, dan lolos ke semi final.

Pada pertandingan pertama saat melawan Thailand kita memang kalah 2-4, tetapi secara keseluruhan permainan Indonesia bagus, begitu kata Opah Riedl di beberapa media yang saya baca. Dan itu sepemikiran dengan saya, namun banyak cibiran untuk Tim Nasional kita di malam itu.

Memang main bagus saja belum cukup  memberikan kebanggaan untuk Negri tercinta, yang mereka inginkan adalah hasil. Kami pun sama, kami menginginkan hasil yang terbaik di setiap pertandingan.

Malam itu ketika setelah pertandingan, seperti biasa saya membuka akun sosial media pribadi. Saya hanya ingin melihat mention yang masuk di dalam sosial media pribadi saya. Ternyata ada beberapa yang mempertanyakan mengapa saya tidak menjadi pilihan pertama?. Di bawah ini akan saya jelaskan semua.

Memang menurut statistik di TSC saya lebih banyak save dari KMH atau TPA, tetapi kalau kita lihat secara pertandingan, wajar saja saya mendapat save lebih banyak. Karena KMH beberapa pertandingan harus absen ketika Arema bertanding, dan TPA demikian.

Bila di lihat dari posisi tim, sangat wajar bila saya lebih di unggulkan dari save. Karena Persija selalu di serang oleh tim lawan, sedangkan Arema, dan SFC tidak seperti Persija yang hampir setiap game harus minimal mendapat 4sampai 5 save.

Menurut saya jangan kita lihat dari sebuah statistik, karena sepak bola bukan seperti pelajaran matematika yang harus di hitung dalam angka.

Dan di cerita lain. Saya mendapat mention dari salah satu suporter Tim Nasional, yang berbunyi “Kenapa Andritany tidak di mainkan, apa anda tidak fit”?.  Saya membalas dengan, “Saat ini saya fit. Menurut saya yang tadi di turunkan adalah pemain yang terbaik untuk Indonesia. Dan saya rasa coach Riedl juga punya pertimbangan, mengapa memasang KMH. Tenang Min, saya yakin coach pasti tahu apa yang dia harus lakukan, yang terpenting saat ini teruslah beri dukungan, dan doa untuk kami disini agar mendapatkan hasil yang terbaik”.

Jangan pernah ragu dengan pemain pilihan coach Riedl, karena saya yakin pilihan dia yang terbaik untuk Indonesia”.

                                                         Tamat....

Jumat, 21 Oktober 2016

Salah Masuk Sektor

Sudah lama saya ingin menulis cerita ini di halaman Blog pribadi, cerita dimana waktu saya masih duduk di bangku sekolah SMA Ragunan. Tetapi cerita dan tulisan ini bukan tentang SMA Ragunan, melaikan kisah semi final Liga Indonesia 2007/2008.

Di tahun 2007/2008 saat itu kasta tertinggi sepak bola Indonesia masih bernama Divisi Utama, dan ini priode terakhir Divisi Utama, setelah itu berganti nama dengan sebutan LSI (Liga Super Indonesia).

2007/2008 club yang keluar sebagai juara Sriwijaya FC yang ketika itu di nahkodai oleh Rahmad Darmawan. SFC berhasil mengalahkan PSMS Medan di babak final, dengan hasil akhir 1-3.

Oke, saya tidak akan banyak mengupas tentang Divisi Utama di akhir priode. Saya akan menceritakan diri pribadi, yang saat itu harus mencaci club yang pernah saya bela di tahun 2009 hingga 2010.

Saat semi final Divisi Utama di tahun tersebut, ketika itu Persipura Jayapura bertemu PSMS Medan. Dan Sriwijaya FC bertemu dengan Persija Jakarta, kedua pertandingan berlabgsung di SUGBK.

Pertandingan pertama Persipura melawan PSMS, dan yang kedua SFC berhadapan Persija. Ketika itu saya bersama teman ada berniat untuk menyaksikan pertandingan secara lagsung di SUGBK.

Tetapi apa daya, dengan setatus pelajar, dan tidak ada uang untuk ongkos naik Trans Jakarta, apa lagi untuk membeli tiket masuk stadion. Rasanya mustahil untuk menyaksikan tim kesayangan berlaga.

Pada akhirnya saya dan teman, mengurunkan niat untuk datang ke stadion. Di lain waktu, teman saya yang berasal dari Papua mengajak untuk menyaksikan pertandingan di stadion. Tetapi ketika itu saya berterus terang, bahwa kita berdua  tidak memiliki fulus.

Ternyata oh ternyata, teman saya yang berasal dari Papua tersebut sudah memiliki tiket, dan beliau memiliki sisa tiket yang tidak di gunakan. Dan pada akhirnya saya meminta dua tiket untuk saya dan teman. Saat itu saya berkata, rezeq anak soleh. Bahaha

Problem berikutnya adalah, tidak ada fulus untuk ongkos ke SUGBK. Tiket sudah di tangan, jadi kami harus memaksa cari uang sekedar untuk membeli tiket Trans Jakarta. Ternyata lumayan masih ada sekitar Rp 50.000.,- di lemari pakaian.

Dengan senang hati saya berdua bersama teman yang bernama Sandri Kasma akhirnya dengan selamat sampai di ring road SUGBK, tidak menunggu lama kita langsung mencari pintu masuk yang tertulis di lembaran tiket tersebut.

Sesampai di dalam, ternyata saya salah sektor. Sektor dimana tempat semua orang memakai baju berwarna kuning yang menandakan suporter dari SFC. Dan saya akhirnya mencoba pindah ke sektor yang agak kosong, dan sedikit nyaman.

Kick off dimulai, saya sudah mendapatkan posisi yang nyaman untuk menyaksikan. Ketika pertandingan baru masuk menit ke 25', shooting kaki kiri Keith Kayamba Gumbs merobek gawang Persija, yang saat itu di kawal Evgheny Khmaruk. Saat itu juga dengan refleks saya kesal dan memaki Gumbs yang ketika itu bermain luar biasa.

Gol Gumbs menjadi satu-satunya di pertandingan malam itu. Akhirnya Persija saat itu kalah di fase semi final, dan harus rela membiarkan SFC melaju ke final. Walau di malam itu Persija harus kalah, tetapi hati saya tetap senang, karena bisa menyaksikan langsung Persija di SUGBK.

                                             Tamat....

Sabtu, 24 September 2016

Kebanggan Ardhiyasa

Jelang beberapa hari sebelum laga persahabatan dengan Malaysia digelar, media massa ramai memberitakannya. Wajar, karena ini adalah pertandingan Tim Nasional (Timnas) Indonesia untuk pertama kalinya setelah sanksi selama kurang lebih 18 bulan dari FIFA dicabut.

Mungkin karena rasa rindu yang teramat besar dari masyarakat kita melihat Timnasnya berlaga, pertandingan itu pun menjadi topik pembicaraan yang hangat. Ditambah lawan uji coba yang dihadapi adalah Harimau Malaya, musuh bebuyutan Tim Garuda.

Bagi saya pribadi dan keluarga Ardhiyasa, laga hari itu adalah laga istimewa. Betapa tidak?  Saya dan kakak saya, Indra Kahfi Ardhiyasat terpilih menjadi bagian dalam barisan skuat Merah-Putih. Pertama kali bagi keluarga Ardhiyasa dan bisa jadi juga yang pertama bagi keluarga dari Betawi. Kakak-beradik asal Betawi berada dalam Timnas.

Sejak awal kami berdua dipanggil untuk ikut tahap seleksi Timnas, saya sudah sangat senang. Saya makin senang saat saya dipercaya sebagai starter dalam duel kontra Malaysia yang digelar Selasa, 6 September 2016 di Solo. Rasa bahagia makin yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata saat Indra masuk ke lapangan sebagai pemain pengganti pada 8 menit akhir laga malam itu.

Saya juga yakin kedua orang tua kami pasti bahagia. Kedua putranya bisa tampil bersama membela Tim Merah Putih, membela negara yang kami cintai. Peristiwa ini semakin memompa semangat saya untuk terus memberikan yang terbaik selama dipercaya bermain untuk Timnas. Kami akan berbuat yang terbaik untuk negara kami tercinta.

Dan kami sampai di level ini bukan hanya salah satu orang yang beruntung, kami bisa sampai disini berkat kerja keras dan pantang menyerah. Itu lah yang selalu di tanamkan oleh orang tua kami sejak kecil.

                                                          Tamat....

Senin, 05 September 2016

Gimana Hasilnya Setelah Di UGD


Tim Nasional kita tidak lama lagi akan menghadapi event  dua tahunan pesta sepak bola di dataran ASEAN. Ketika di tahun 1996 hingga 2006 AFF Cup bernama Tiger Cup, dan setelah tahun 2007 nama tersebut berubah menjadi AFF Cup. Pada pergelaran di tahun 2008 untuk pertama kalinya nama Tiger Cup di ganti menjadi AFF Cup.

Tim Nasional kita belum pernah sekalipun membawa pulang trofi yang sudah dua kali berganti nama, pencapaian terbaik adalah menjadi empat kali finalists. Prestasi yang terakhir di Piala AFF hanya mencapai penyisihan group, ketika itu nahkoda Tim Nasional Alfred Riedl di tahun 2014.

Saat ini bukan saya sedang membandingkan pelatih atau materi pemain di tiga era terakhir Piala AFF. Dan saya juga sedang tidak berkata pelatih A lebih baik dari pelatih B, dengan hasil dari AFF 2010, 2012, dan 2014. Jelas dengan kasat mata, timnasional 2010 di bawah arahan Alfred Riedl ketika itu lebih siap dari dua event setelahnya.

Pertanyannya adalah, mengapa seorang Andritany Ardhiyasa menilai 2010 lebih siap dari 2012, dan 2014?

Dalam analisa saya, mengapa 2010 lebih siap. Karena salah satu faktor adalah liga yang berjalan baik, dengan sistem satu wilayah. Pada saat liga berjalan satu wilayah seperti sekarang ini, setiap pemain sedang berada di peak performance. Karena dengan jumlah banyaknya pertandingan yang sama untuk setiap klub.

Mengapa 2012 bisa di bilang jauh dari kata sukses?.

Saat di tahun 2012, di tahun itu cikal bakal hancurnya sepak bola Indonesia, mengapa?. Terjadinya dua lisme ke pengurusan PSSI, membuat Tim Nasional kita terbagi menjadi dua. Pada akhirnya organisasi sibuk dengan dua lisme yang terjadi, sampai lupa untuk menyiapkan tim terbaik untuk turun di event AFF Cup. Dan hasil yang kurang memuaskan terjadi di tahun tersebut.

2014 salahnya di sistem liga. Mengapa saya bilang demikian?. Dengan tatanan liga yang menjadi dua wilayah saat itu, menjadi sebuah masalah besar bagi Tim Nasional kita. Bisa saya bilang hanya sebagian pemain yang bisa mencapai di peak performance. Mungkin hanya pemain dari klub yang masuk sampai di semi final atau final liga. Bagi pemain yang klubnya tidak lolos ke semifinal dan final akan memulai kondisi fisik dari nol.

Sekali lagi bukan saya sedang membandingkan di tiga era tersebut. Semoga saja di tahun 2016 ini, dengan tatanan liga yang satu wilayah, dan tidak ada nya konflik dua lisme, semoga membuat timnasional kita bisa berbicara banyak di pentas AFF Cup.

Mari kita nantikan apa kah Garuda sudah benar-benar sembuh dari sakitnya?, setelah lebih dari satu tahun lamanya masuk di unit gawat darurat (UGD). Menarik untuk kita tunggu. Dan jangan lupa mari kita support untuk timnasional kita yang akan berlaga di AAF Cup November mendatang.

                                                               Tamat....

Jumat, 01 Juli 2016

Pahlawan Yang Terlupakan

Malam itu di sekitar daerah pemukiman rumah saya di guyur hujan deras, dan sesekali terdengar suara petir yang menggelegar. Hujan turun dengan derasnya, suara percikan air yang turun ke bumi terdengar dari balik kaca jendela kamar tidur saya.

Malam itu saat hujan turun, saya tengah asik menonton televisi, acara yang saya saksikan saat itu adalah Road To ASIAN Games Indonesia. Dari menonton acara tersebut, pada akhirnya terlintas di benak saya untuk membuat sebuah artikel ini.

Oke, sedikit kita lupakan acara televisi yang saya saksikan tadi. Indonesia, negara yang besar, negara yang memiliki Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang melimpah.

Negara ini tidak pernah kehabisan bakat-bakat dari dunia olahraga. Dari Yayuk Basuki cabang tenis lapangan. Rudy Hartono, Susy Susanti, Alan Budi Kusuma cabang bulutangkis. Nurfitriana Saiman cabang Pemanah. Rony Paslah, Rony Patinasarani cabang sepak bola. Iliyas Pikal cabang tinju dan masih banyak lagi atlet-atlet berprestasi yang tidak mungkin saya sebutkan namanya satu per satu.

Nama-nama diatas adalah sedikit nama pahlawan-pahlawan bangsa dari dunia olah raga, mereka pernah membawa harum nama bangsa Indonesia di kancah internasional. Jasa mereka sangat besar untuk olahraga Indonesia.

Memang mereka bukan pahlawan kemerdekaan selayaknya Jendral Soedirman, atau Bung Tomo. Namun setidaknya mereka pernah berjuang, dan mengharumkan bendera pusaka merah putih di dunia olah raga.

Jasa yang besar seperti pahlawan revolusi memang harus kita kasih penghargaan, contohnya sepeti nama jalan atau nama sebuah gedung. Tetapi terkadang pemerintah Indonesia tidak pernah melihat jasa-jasa dari pahlawan dunia olahraga, mereka juga pernah membawa harum nama bangsa Indonesia di level internasional.

Di suatu pagi, saya pernah membaca berita di salah satu koran nasional, berita yang akhirnya membuat hati saya terenyuh. Berita tentang seorang mantan atlet nasional yang harus berjualan minuman di salah satu stadion olah raga di Jakarta.

Pada kisah yang lain, saya juga pernah melihat seorang mantan atlet nasional, yang harus menjadi pengemudi ojek demi menghidupi keluarganya.

Jasa para pahlawan olah raga memang tidak sebesar para pahlawan kemerdekaan, hingga tidak juga perlu dibuat menjadi nama-nama jalan protokol. Namun setidaknya sebuah perhatian sudah selayaknya mereka dapatkan dimasa-masa tua mereka.

Dan oleh karena itu, saya rasa pemerintah Indonesia harus segera turun tangan, agar mantan-mantan atlet yang pernah mengahrumkan nama bangsa dan negara mendapatkan perhatian yang semestinya.

Bukankah, "Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenang jasa-jasa para pahlawannya".

Selesai....