Selasa, 26 April 2016

Selamat Berkerja, dan Mencari Nafkah

JT 794, pesawat dengan route penerbangan Jakarta menuju Jayapura. Tanggal 26 April 2016 pukul 22.25 WIB, sekuad tim Persija Jakarta bertolak menuju Jayapura. Penerbangan akan di tempuh waktu 5 jam dan 30 menit.

Tim Macan Kemayoran akan mengawali kiprahnya di TSC (Torabika Soccer Championsihp) pada tanggal 29 April 2016. Pada laga pertama tim Macan Kemayoran akan menghadapi tuan rumah Persipura Jayapura, dan laga tersebut menjadi laga pembuka dari mulainya TSC tersebut.

TSC tersebut mengunakan peraturan yang hampir sama dengan liga-liga eropa, dengan sama-sama kita ketahui. Bahwa kompetisi ini dengan duration yang cukup panjang. Lamanya duration sekitar delapan bulan, dan bertanding hanya di wekeend. Ini membuat turnamen-turnamen yang seperti sebelumnya, kemungkinan besar tidak akan ada lagi.

Kehadiran TSC tersebut disambut baik oleh insan sepak bola nasional. Setelah di berhentikannya QNB League tahun 2015, selama ini tidak ada lagi sebuah kompetisi dengan duration yang panjang seperti halnya sebuah liga.

Selama satu tahun, dari 2015 sampai 2016, praktis hanya beberapa turnamen demi turnamen dengan duration yang cukup singkat. Dari Piala Kemerdekaan, Piala Presiden, Piala Jendral Sudirman sampai yang terakhir Piala Bahayangkara. Dari semua turnamen tersebut, hanya klub-klub level tertinggi dari sepak bola nasional yang bermain.

Dan pada akhirnya dengan mengatas namakan solideritas kepada teman-teman yang satu profesi, dari asosiasi pesepakbola profesional Indonesia atau yang sering kita dengar, atau kita baca di media yaitu APPI. Dengan presiden dan wakilnya serta exco dari APPI tersebut, menyatakan sikap. Bahwa akan memboikot semua turnamen, sampai ada kejelasan bergulirnya kompetisi yang berjenjang dan bersinambungan.

Seperti pucuk dicinta, ulampun tiba. Tidak lama APPI menyatakan sikap, PT GTS (Gelora Tri Sula) membuat sebuah statement, akan membuat sebuah kompetisi yang berjenjang dan berkesinambungan. Statement dan wacana PT GTS tersebut, di sambut baik oleh pihak APPI.

Ternyata niat baik dari PT GTS tersebut tidak berjalan mulus, karena adanya konflik antara Pemerintah dengan PSSI, membuat pertandingan perdana TSC tersebut tidak on schedule. Yang awalnya laga pembuka pada tanggal 14 April 2016, akhirnya harus di reschedule menjadi 29 April 2016.

Awalnya dari tim transisi bentuka Menpora belum merekomendasikan agar berjalannya TSC tersebut, dan juga dari pihak BOPI (Badan Olahraga Profesioanal Indonesia) demekian sama seperti halnya tim transisi. Tetapi di lain waktu RI1 atau yang kita tahu bapak Presiden Joko Widodo meminta agar berjalannya roda kompetisi sepakbola, setelat-telatnya di akhir bulan April.

Dengan keluarnya sebuat statement dari orang nomer satu di negri ini, mau tidak mau, BOPI atau dari tim transisi harus mengeluarkan rekomendasi ijin menggulirkan TSC tersebut.

Dan bapak Presiden, meminta kepada operator kompetisi, atau pihak GTS, untuk menyelenggarakan laga pembuka di wilayah timur Indonesia. Dengan alasan, sebuah semangat baru dari sepak bola nasional, harus seperti sang surya, yang selalu terbit dari ufuk timur.

Dan pihak GTS membuat sebuah kompetisi yang berjenjang, dari TSC A, yang di ikuti 18 klub ISL, ada juga TSC B untuk Divisi Utama, TSC C untuk Liga Nusantara. Dan juga GTS membuat konpetisi untuk usia dini, seperti TSC U-21 dan TSC U-18.

Dari format yang di luncurkan pihak GTS, ini adalah sebuah kompetisi berjenjang. Yang berarti semua klub atau pemain mempunyai kesempatan bermain di TSC. Dan tidak ada lagi untuk alasan, bahwa kompetisi hanya untuk klub dan pemain-pemain yang berlaga di kasta tertinggi.

Semoga hajat dari PT GTS tersebut berjalan dengan lancar, dan tidak lagi ada masalah seperti sebelum-sebelumnya, apa lagi masalah menyangkut dengan hak-hak pelaku pesepakbola.

Untuk teman-teman seprofesi. Selamat berkerja, dan mencari nafkah untuk keluarga. Tetap semangat.
           

                                                                   Selesai....
                                                  

Selasa, 12 April 2016

Pawon

Seperti biasa pada saat tour keluar kota, saya selalu menyempatkan diri untuk mencicipi makanan khas dari kota yang saya singgah. Dari daerah Aceh sampai ke daerah Papua, setiap saya singgah di salah satu kota di negri ini, selalu mencicipi hidangan khas dari kota tersebut.

Seperti di Aceh, terkenal dengan mie, roti cane dan kopi nya. Palembang terkenal dengan Pempek nya, Wamena dengan udang selingkuh nya, Jayapura dengan ikan bakarnya, atau Solo yang populer di mata pemain sepak bola dengan soto Celana Dalam, seperti yang di sebut oleh mas Bambang Pamungkas. Dan masi banyak lagi di daerah-daerah yang belum bisa saya sebutkan satu persatu.

Disini saya akan bercerita tentang makanan khas dari kota pelajar DIY (Daerah Istimewa Yogjakarta), makanan khas dari kota ini adalah gudeg. Gudeg, dengan satu porsinya yang biasa berisikan nasi di campur oleh nangka muda yang sudah dimasak dengan campuran gula merah dan di tambahkan sambel kerecek yang sedikit basah. Bisa juga di tambahkan telor semur atau opor ayam.

Gudeg yang saya akan ceritakan agak sedikit berbeda dengan gudeg Yu Djum yang sangat familiar di kota Jogjakarta. Gudeg yang saya akan ceritakan ini tidak pernah membuka cabang, dan juga lokasi atau tempat agak sedikit sulit untuk dicari. Mungkin kalau memakai google map, bisa langsung ketemu dengan dapur dari gudeg tersebut.

Gudeg Pawon, yang artinya gudeg dapur. Memang kita harus mengantri dan membutuhkan kesabaran yang tinggi untuk mendapatkan satu porsi gudeg Pawon tersebut. Antrian yang sangat panjang membuat pengunjung merasa semakin penasaran dengan rasa dari gudeg tersebut.

Pawon, yang arti dari bahasa Jawa adalah dapur. Mengapa di bilang demikian?. Banyak orang bilang, karena penjual memakai dapur sebagai tempat berdagang. Kita harus memasuki sebuah gang yang sempit, yang hanya bisa di lewati satu sepedah motor untuk antri menuju pawon dari penjual gudeg.

Ya... butuh sedikit perjuangan dan kesabaran untuk mendapatkan gudeg pawon tersebut. Tetapi saya berani menjamin, kualitas rasa tidak akan mengecewakan. Rasa yang gurih dan manis, di tambah cabai, membuat rasa semakin lengkap. Saya rasa sudah cukup untuk membuat air liur mengalir di dalam mulut. Dengan tambahan opor ayam kampung, membuat gudeg ini menjadi lebih sempurna.

Pesan dari saya, jangan pernah telat untuk datang ke gudeg Pawon. Telat sedikit, pasti akan antri panjang, dan bisa juga tidak akan mendapatkan gudeg yang bisa di bilang juara dunia.

Gudeg tersebut buka jam 22.00- sampai habis, terkadang jam 23.00 sudah tidak ada sisah.

Lokasi tidak akan saya share, karena jika kita menginginkan sesuatu harus ada usaha.

Kamis, 07 April 2016

30 Mei 2015

Tanggal 30 Mei 2015, dimana tanggal ini menjadi saksi sejarah yang kelam bagi sepak bola Indonesia. Pada tanggal tersebut PSSI yang pada dasarnya adalah organisasi tertinggi sepak bola Indonesia mendapatkan suspend dari organisasi tertinggi sepak bola dunia, yang selama ini dikenal bernama FIFA.

Seakan bunyi petir di siang hari yang terik, saya merasa sangat terkejut dengan di jatuhkannya suspend tersebut. Sebelum di jatuhkannya suspend untuk Indonesia, saya baru saja menerima surat pemanggilan TC (Training Center) timnasional, untuk persiapan pra piala Asia.

Hati yang sangat berbunga-bunga pada saat saya menerima surat pemanggilan untuk TC timnasional, ibaratkan saya mendapatkan surat cinta dari seorang yang saya cintai. Bagaikan sebuah perjalanan cinta anak-anak jaman sekarang, setelah berbunga-bunga, tidak lama hati terluka. Dan saya merasakan hal itu, setelah mendengar Indonesia di jatuhkan suspend dari FIFA.

Pada tanggal yang sama, sebelum di jatuhkannya suspend kepada sepak bola kita. Tuhan terlebih dahulu memberikan saya sebuah kado yang amat sangat terindah, dan kado itu tidak akan pernah saya lupakan selama hidup saya. Jam 15.25 WIB isteri tercinta saya yang bernama Citra Destie Arlindasari melahirkan seorang anak perempuan yang cantik nan lucu. Yang saat ini kami memberi nama Binar Jiwa Ardhiyasa.

Anugrah yang sangat indah di penghujung bulan. Tetapi setalah 4 jam kelahiran putri kami tercinta, saya membaca berita dari sebuah media sosial, yang membuat hati saya menjadi sangat sedih di hari bahagia itu.

Iya, suspend yang di terima sepak bola kita, membuat saya sedikit sedih di hari sejarah keluarga saya. Tetapi di tanggal tersebut bukan hanya hari sejarah untuk keluar saya, ternyat untuk semua bangsa Indonesia. Dan untuk pertama kalinya bangsa yang besar ini, sepak bolanya harus terkena suspend dari FIFA.

Saat ini sudah 10 bulan umur dari anak saya, berarti sudah 10 bulan juga sepak bola kita terjerat sanksi dari FIFA. Saat ini anak saya sudah mulai bisa berjalan, yang artinya dari hari demi hari, dari bulan ke bulan ada sebuah progres atau sebuah kemajuan. Tetapi itu tidak saya lihat dari sepak bola kita.

Hanya sebuah turnamen demi turnamen yang selalu di buat, tetapi tidak ada kejelasan dimana akan bermuaranya. Dari beberapa turnamen, seakan membangkitkan gairah sepak bola Indonesia yang saat ini mati suri, tetapi itu buka  jalan keluar dari sanksi yang di berikan FIFA terhadap sepak bola kita.

Dan sebuah turnamen hanya memberi nafas bagi pemain-pemain yang  bermain di top level, bagai mana dengan teman-teman kami yang berada di level berikutnya. Apakah mereka masi bisa makan dan bermain sepak bola?.

Sepuluh bulan sudah konflik antara pemerintahan dengan PSSI tidak juga selesai, sampai kapan kami harus menunggu ini semua. Dan sampai kapan kami bisa bernafas dengan sempurna, karena terlalu banyak beban tentang sepak bola kita di kepala kami. Dada kami tersa sempit, dada kami terasa tidak bisa bernafas dengan lepas, semua karena konflik ini. Jangan kalian korbankan kami, sesungguhnya kami adalah korban dari kepentingan kalian.

"Jangan lah kita sebagai bangsa yang menindas orang lain, demi kepentingan diri sendiri"....

#Indonesiabersatu
#indonesiabersama

Kamis, 04 Februari 2016

Charity Game

Kamar 1012, hotel Fave kota Solo Surakarta. Malam menjelang pagi, jam di smart phone saya sudah menunjukan pukul 02.15 WIB, tentunya ini jam dimana saat pedagang sayur pergi kepasar untuk membeli belanjaan. Dan ini bukan waktu yang tepat untuk saya menulis, tetapi jemari, dan rasa emosi saya saat itu ingin sekali menulis artikel ini.

Tanggal 2 Februari, ada sekitar 30 pemain liga Indonesia datang ke kota Solo. Mereka datang untuk mengikuti pertandingan amal yang di selenggarakan oleh Gibol, pertandingan amal tersebut untuk membatu sesama pemain sepak bola yang selama ini sedang mendapatkan musibah cidera. Ada tiga pemain sepak bola yang saat ini akan di bantu oleh pihak Gibol, ada Mohamad Nasuha, Alfin Tual Salamony dan Abdul Rahman Lestaluhu.

Ketiga pemain tersebut harus menerima kenyataan pahit, mereka harus menepi dari lapangan hijau sudah lebih dari setengah tahun. Memang hantu paling menakutkan atlet adalah cidera, tetapi seberat apa pun cidera yang di alami pasti akan bisa pulih kembali, jika penanganan secara profesional dan sabar.

Dari tiga pemain tersebut, mereka cidera saat masi terikat kontrak dengan klub yang di belanya saat itu. Tetapi yang saya dengar langsung dari mereka, tidak ada nya pertanggung jawaban dari klub. Parahnya lagi, dari pihak federasi atau pemerintah tidak ada ikut ambil bagian untuk pengobatan mereka.

Piala AFF 2010, siapa yang tidak mengenal Mohamad Nasuha, pemain Indonesia bernomer punggung 2, yang selalu bermain dengan gigih dan tidak mengenal kata menyerah. Alfin, pahlawan Indonesia saat di SeaGames Myanmar 2013. Berkat gol nya dari titik pinalty Alfin mengantarkan merah putih lolos ke babak semifinal SeaGames saat itu.

Dua pemain yang pernah mengharumkan nama bangsa di kanca dunia, kali ini harus berjuang untuk bisa berlari, melompat, dan menendang si kulit bundar lagi. Tetapi federasi, dan pemerintah tidak ada perhatiannya kepada mereka yang pernah mengharumkan nama bangsa Indonesia.

Seharusnya ini menjadi cerita yang terakhir dari sepak bola kita, meski ini bukan yang pertama kalinya. Sudah pasti banyak orang akan berpikir berulang kali untuk menjadi pesepak bola, jika klub, federasi, dan pemerintah tidak bertanggung jawab dalam menjamin kesehatan dan keselamatan atlet.

Dan saya sangat mengapresiasi kepada penyelenggara, jika memang pertandingan ini semata-mata hanya ingin membantu teman kami. Tanpa ada nya maksud lain atau menyinggung pihak-pihak tertentu. Tentu saya akan menjadi sebaliknya jika memang pihak penyelenggara ada niat lain di balik pertandingan amal ini.

Mengapa saya bilang jangan ada niat lain selain amal. Karena saya pribadi tidak ingin di jadikan sebagai media atau alat berpolitik. Saya dan teman-teman pemain, berada disini karena ingin membatu sesama pesepak bola. that's it.

Dan di akhir sekali, saya akan berkata. Cepat sembuh untuk Alvin, Nasuha dan Rahman. Cepatlah berlari dan mengejar si kulit bundar bersama-sama kami lagi kawan.

Jumat, 25 Desember 2015

Peristiwa 10 Tahun Lalu

Pada awalnya saya agak sedikit ragu untuk menulis artikel ini, tetapi saya sempat berdiskusi dengan beberapa teman-teman The Jak Mania, dan akhirnya saya di desak untuk membuat artikel ini. Banyak sekali pertimbangan untuk membuat artikel ini, hampir sekitar 2 tahun saya mempertimbagkan artikel ini.

Pada akhirnya saya mencoba untuk memberanikan diri membuat artikel yang sedikit sensitif ini, karena menyangkut rivalitas ke dua tim besar.

Oke, tahun 2005, kira-kira sekitar 10 tahun lalu pristiwa ini terjadi. Pristiwa yang menimpa seorang anak kecil, yang lugu dan belum banyak mengerti tentang sepak bola dalam negeri.

Anak kecil yang masi ingusan dan beraroma matahari, berumur masi belasan tahun. Iya, anak itu mendapat perlakuan yang tidak sewajarnya (kekerasan fisik). Dan anak ini belum memahami tentang rivalitas antara dua tim besar di Indonesia. Siapa lagi kalau bukan rivalitas antara Persija Jakarta dengan Persib Bandung.

Ya, anak kecil, ingusan dan beraroma matahari itu saya sendiri. Sekitar umur 13 tahun, saya pernah membela panji kebesaran warga Bandung, walaupun itu hanya sekelas piala Suratin atau junior. Saya membawa Persib junior menjadi jawara di Indonesia, ya walau hanya sekelas junior, patut saya banggakan. Hhemmm...

Saat itu posisi saya sudah terdaftar sebagai siswa sekolah atlet Ragunan, seperti biasa disaat hari libur seperti Sabtu dan Minggu saya di ijinkan untuk IBL (Ijin Bermalam di Luar) dan pada hari Minggu malam saya harus kembali lagi ke asrama Ragunan, untuk menjalankan rutinitas seperti biasanya (Sekolah dan Berlatih).

Biasanya pada saat IBL, saya menghabiskan waktu bersama kedua orang tua saya dan juga abang (kaka laki-laki) saya, terkadang saya juga menyempatkan diri bermain bersama teman-teman yang ada di komplek sekitar rumah orang tua saya.

Pada suatu ketika, saya pergi bermain futsal bersama teman rumah di daerah yang letaknya tidak begitu jauh dari komplek rumah orang tua saya. Dan pada saat itu saya merasa sesuatu yang tidak beres. Dengan percaya diri saya keluar rumah dan menuju lapangan futsal tersebut.

Sesampai di lokasi, saya duduk-duduk sendiri, sekalian menunggu waktu giliran tim saya bermain. Tidak lama berselang, ada dua orang pemuda menghampiri bocah ingusan yang beraroma matahari tersebut, bocah ingusan tidak menyadari ada dua pemuda menghampirinya.

Tanpa basa basi kedua pemuda tersebut menyekik dan memukul bocah ingusan yang sedang duduk tersebut, kedua pemuda tersebut sambil berteriak "buka baju lo", dan bocah itu tidak menyadari apa yang dia pake.

Tidak lama kemudian, keributan semakin meluas, karena memang banyaknya teman-teman saya yang membela, tetapi keributan tersebut tidak berlangsung lama, setelah petugas keamanan melerai. Setelah kejadian tersebut bocah itu menyadari, bahwa dia sedang mengenakan baju bertuliskan "Persib Aing Pisan".

Terkadang banyak orang yang tidak menyadari barang yang ia kenakan. Dan saya sebagai bocah (anak kecil) tersebut, berterimakasih atas teguran dari kalian yang pernah menaro stempel di wajah saya ini.

Dan saya hanya bisa bilang, "saya memakai baju Manchester City, bukan berarti saya fans Manchester City, saya tetap fans Manchester United".

Dan juga seperti pristiwa di atas. Bukan juga saya Viking atau Bobotoh, buktinya sampai saat ini walaupun saya pernah disakiti dan di caci, bahkan pernah di perlakukan dengan tidak sewajarnya, saya masi berdiri tegak untuk Persija....

Jumat, 27 November 2015

8angkit 7uara Persija

Malang, di suatu pagi buta, saat arlogi saya menunjukan pukul 1.57 WIB. Mungkin ini bukan waktu yang pantas untuk saya masi menulis artikel ini, karena menyadari saya seorang atlet yang masi aktif bermain.

Bertepatan hari ini tanggal 28 November 2015 akan di gelar pertandingan Arema vs Persija, pertandingan tersebut lanjutan dari babak penyisihan turnamen Piala Jendral Sudirman.

Memang kedua tim telah memastikan diri lolos ke babak delapan besar, setelah keduanya sama-sama belum pernah terkalahkan. Arema yang bertindak sebagai tuan rumah di PJS (Piala Jenderal Sudirman) berhasil mengumpulkan poin 9 dari tiga pertandingan.

Sementara Persija dengan sekuad mayoritas pemain-pemain barunya, berhasil mengumpulkan poin 6 dari dua pertandingan.

Arema sendiri mendapatkan poin 9 dari lawan-lawan sebagai berikut:
Vs Gersik United : 4-1
Vs PBR                 : 4-2
Vs Sriwijaya Fc   : 2-0

Dan ini hasil dari dua pertandingan Persija sebelum menghadapi Arema:
Vs PBR                 : 2-0
Vs Sriwijaya Fc    : 1-0
Dari dua pertandingan tersebut Persija belum menghadapi Gersik United dan Arema. Secara peraturan yang di gunakan PJS adalah dengan head to head, jadi faktanya bahwa Persija menang head to head dengan PBR dan Sriwijaya fc.

Pertandingan melawan Arema memang tidak terlalu menjadi beban untuk anak-anak Macan Kemayoran, karena Macan Kemayoran sudah di pastikan lolos ke babak delapan besar. Tetapi ini sebuah partai yang besar, dan gengsi. Partai ini juga selalu di tunggu oleh para pencinta sebak bola nasional karena kedua tim mempunyai rivalitas.

Selain itu, sama-sama kita tahu bahwa tanggal 28 November adalah hari dimana tim Ibu Kota di dirikan, paling tidak Macan Kemayoran tidak ingin memberi sebuah cerita yang pahit di hari ulang tahunnya.

Hari ini ulang tahun Persija yang ke-87, Macan Kemayoran sudah memberikan kado untuk The Jak Mania dari tiga hari yang lalu. Kado yang di berikan adalah kemenangan atas Sriwijaya fc dan sekaligus memastikan diri lolos ke babak delapan besar.

Tetapi saya tahu, kado itu tidak cukup untuk The Jak Mania, dan saya pun merasa demikian. Saya merasakan bahwa ini belumlah cukup di jadikan sebuah kado yang sepesial untuk kalian.

Dan saat ini kami sedang menyiapkan kado yang sepesial untuk kalian, kami juga berusaha sampai batas akhir kemampuan kami untuk memberikan sebuah kado yang sepesial untuk seporter yang setia dengan kami.

Tapi kami tau dari sebuah usaha pasti akan ada sebuah badai yang besar, kami selalu berusaha untuk bisa melewati badai tersebut. Seperti orang pintar bilang "Seorang nahkoda yang pandai berlayar, bukan terlahir dari lautan yang tenang. Nahkoda pandai terlahir di atas lautan dengan badai yang besar".

87 tahun bukan waktu yang sebentar untuk sebuah klub, dengan panjangnya sejarah Persija dan segudang prestasinya. Banyak pemain telah di besarkan namanya, seperti Sucipto Suntoro, Sinyo Aliandoe,Yudi Hadiyanto, Surya Lesmana, Anjas Asmara, dan yang diera saat ini ada Ismed Sofyan dan juga Bambang Pamungkas. Itu hanya beberapa nama yang bisa saya sebutkan, masi banyak legenda Persija yang lain.

Prestasi yang engkau punya saat ini masi sangat sulit di lewati klub-klub lain di tanah air. Dengan 10 gelar juara liga dan salah satu tim yang tidak pernah turun kasta (Degradasi).

Dan sampai terakhir saya menulis artikel ini, saya sangat bangga pernah menjadi bagian tim ini. Karena semua ini adalah sebuah mimpi dari saya.

Selamat ulang tahun Persija Ku, dewasa bukan pilihan, tetapi sebuah keharusan.

#8angkit
#7uara

Selesai....

Minggu, 08 November 2015

Antara Asap di Jakarta dan Sepak Bola Indonesia

Sebuah pagi jelang bulan lalu berakhir, saya seperti biasa melakukan ”ritual” yang hampir tidak pernah terlewatkan. Saya membuat secangkir teh panas dengan sedikit gula plus ditemani semangkok bubur kacang hijau.

Terkadang menu makannya berganti, tetapi teh panas dengan sedikit gula selalu menemani pagi saya. Apa pun sarapannya, minumnya tetap teh panas dengan sedikit gula. Hehehe

Pagi itu, saat sedang menjalankan ”ritual” tersebut, saya melihat berita di salah satu stasiun televisi, tentang asap yang mulai menyerang Ibu Kota Jakarta. Saya agak terkejut dengan pemberitaan tersebut. Karena pada awalnya saya berpikir asap yang sedang melanda Kepulauan Riau, Sumatera, dan Kalimantan tidak akan menyerang Ibu Kota.

Memang asap yang menyelimuti Ibu Kota masih dalam level tidak berbahaya atau tipis, jauh jika dibandingkan dengan Sumatera, Kalimantan, dan Kepulauan Riau. Apalagi di tiga wilayah itu, banyak jatuh korban akibat terserang penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) atau gangguan pernapasan.

Sejauh ini korban jiwa  tercatat ada ribuan dan yang meninggal mencapai puluhan, sebagian besar dari mereka adalah anak-anak dan balita. Selain itu, aktifitas di kota yang terselimuti asap menjadi lumpuh total. Salah siapa ini semua?

Bukankah seharusnya anak-anak kita bisa menikmati udara yang layak untuk dihirup? Bukankah generasi-generasi penerus bangsa ini semestinya bisa mengejar cita-citanya tanpa ada asap seperti sekarang?

Seharusnya, pemerintah mencari siapa dalang dari ”pewayangan” asap ini. Pemerintah harus cepat mencari solusi agar asap yang menyelimuti bangsa ini cepat hilang. Saya secara pribadi juga tidak pernah membayangkan bila asap di Ibu Kota semakin parah.

Roda pemerintahan dan perekonomian Bangsa Indonesia pasti semua akan lumpuh total. Bangsa ini akan merugi miliaran bahkan bisa sampai triliunan rupiah. Maka dari itu, sebelum semua semakin bertambah parah, coba kita cari jalan keluar untuk bencana ini agar tidak semakin meluas.

Tulisan saya di atas, potret yang hampir sama dengan sepak bola bangsa ini. Sepak bola kita seakan seperti Kepulauan Riau, Sumatera, atau Kalimantan. Awalnya, sepak bola kita seperti asap di Ibu Kota, tidak tebal dan masih dalam level tidak berbahaya.

Dampak tidak pernah di cari titik pusat masalahnya, akhirnya asap semakin naik levelnya. Yang seharusnya ada pada level sehat, tetapi saat ini level ”asap” di sepak bola kita menjadi sangat berbahaya.

Saat ini sudah banyak menjadi korban dari asap sepak bola kita, yang level ”asapnya” sudah sangat berbahaya. Sayang, semua ”dalang” masih sama-sama belum mengakhiri tragedy pewayangan ini. Semua masih sangat merasa menjadi Gatotkaca alias masih kuat. Semua seperti tidak merasakan ”asap” yang mereka hirup, seakan mereka mempunyai obat yang benar-benar paling mujarab untuk mengobati penyakit ISPA yang mengancamnya.

Mungkin, penyakit ISPA masih bisa kita cari obatnya. Tapi, nyawa manusia, apa ada yang menjual di toko obat Tiongkok?

Korban ”asap” sepak bola bangsa ini memang belum sebanyak korban asap di Riau, Sumatera, dan Kalimantan. Tetapi, apa kita harus menunggu banyak korban berjatuhan, baru kita akan mencari jalan keluar?

Saya pribadi berharap sudah cukup korban ”asap” di Riau, Sumatera, Kalimantan, dan sepak bola bangsa ini. Maka dari itu mari kita lawan ”asap” dan cari dalang dari semua ini. Mari sama-sama kita selesaikan cerita pewayangan ini demi Tanah Air yang lebih baik.