Sebuah pagi jelang bulan lalu berakhir, saya seperti biasa melakukan ”ritual” yang hampir tidak pernah terlewatkan. Saya membuat secangkir teh panas dengan sedikit gula plus ditemani semangkok bubur kacang hijau.
Terkadang menu makannya berganti, tetapi teh panas dengan sedikit gula selalu menemani pagi saya. Apa pun sarapannya, minumnya tetap teh panas dengan sedikit gula. Hehehe
Pagi itu, saat sedang menjalankan ”ritual” tersebut, saya melihat berita di salah satu stasiun televisi, tentang asap yang mulai menyerang Ibu Kota Jakarta. Saya agak terkejut dengan pemberitaan tersebut. Karena pada awalnya saya berpikir asap yang sedang melanda Kepulauan Riau, Sumatera, dan Kalimantan tidak akan menyerang Ibu Kota.
Memang asap yang menyelimuti Ibu Kota masih dalam level tidak berbahaya atau tipis, jauh jika dibandingkan dengan Sumatera, Kalimantan, dan Kepulauan Riau. Apalagi di tiga wilayah itu, banyak jatuh korban akibat terserang penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) atau gangguan pernapasan.
Sejauh ini korban jiwa tercatat ada ribuan dan yang meninggal mencapai puluhan, sebagian besar dari mereka adalah anak-anak dan balita. Selain itu, aktifitas di kota yang terselimuti asap menjadi lumpuh total. Salah siapa ini semua?
Bukankah seharusnya anak-anak kita bisa menikmati udara yang layak untuk dihirup? Bukankah generasi-generasi penerus bangsa ini semestinya bisa mengejar cita-citanya tanpa ada asap seperti sekarang?
Seharusnya, pemerintah mencari siapa dalang dari ”pewayangan” asap ini. Pemerintah harus cepat mencari solusi agar asap yang menyelimuti bangsa ini cepat hilang. Saya secara pribadi juga tidak pernah membayangkan bila asap di Ibu Kota semakin parah.
Roda pemerintahan dan perekonomian Bangsa Indonesia pasti semua akan lumpuh total. Bangsa ini akan merugi miliaran bahkan bisa sampai triliunan rupiah. Maka dari itu, sebelum semua semakin bertambah parah, coba kita cari jalan keluar untuk bencana ini agar tidak semakin meluas.
Tulisan saya di atas, potret yang hampir sama dengan sepak bola bangsa ini. Sepak bola kita seakan seperti Kepulauan Riau, Sumatera, atau Kalimantan. Awalnya, sepak bola kita seperti asap di Ibu Kota, tidak tebal dan masih dalam level tidak berbahaya.
Dampak tidak pernah di cari titik pusat masalahnya, akhirnya asap semakin naik levelnya. Yang seharusnya ada pada level sehat, tetapi saat ini level ”asap” di sepak bola kita menjadi sangat berbahaya.
Saat ini sudah banyak menjadi korban dari asap sepak bola kita, yang level ”asapnya” sudah sangat berbahaya. Sayang, semua ”dalang” masih sama-sama belum mengakhiri tragedy pewayangan ini. Semua masih sangat merasa menjadi Gatotkaca alias masih kuat. Semua seperti tidak merasakan ”asap” yang mereka hirup, seakan mereka mempunyai obat yang benar-benar paling mujarab untuk mengobati penyakit ISPA yang mengancamnya.
Mungkin, penyakit ISPA masih bisa kita cari obatnya. Tapi, nyawa manusia, apa ada yang menjual di toko obat Tiongkok?
Korban ”asap” sepak bola bangsa ini memang belum sebanyak korban asap di Riau, Sumatera, dan Kalimantan. Tetapi, apa kita harus menunggu banyak korban berjatuhan, baru kita akan mencari jalan keluar?
Saya pribadi berharap sudah cukup korban ”asap” di Riau, Sumatera, Kalimantan, dan sepak bola bangsa ini. Maka dari itu mari kita lawan ”asap” dan cari dalang dari semua ini. Mari sama-sama kita selesaikan cerita pewayangan ini demi Tanah Air yang lebih baik.